Monday, June 11, 2007

Arti Cinta [Mahabbah]

oleh FK Yuwono

Berapa banyak perempuan di masa kita berusaha mengisi kekosongan diri dengan cinta yang didasarkan pada kaitan dengan sesuatu atau makhluk ciptaan. Allah SWT, Sang MahaRaja Tertinggi, telah bersemayam dalam diri setiap orang, bahwa Allah SWT telah menciptakan kalbu, yang harus diisi dan dipenuhi; baik oleh ketaatan dan pelayanan kepada Allah SWT, atau ketaatan dan pelayanan kepada selain Allah SWT. Setiap kalbu memiliki perasaan, keinginan dan fluktuasinya.

Pertanyaannya adalah “akankah perasaan, keinginan dan fluktuasinya itu diarahkan langsung kepada Allah SWT saja, ataukah kesemuanya itu diarahkan kepada selain Allah SWT ?.” Hanya pilihan pertamalah yang sebenarnya ketaatan dan ketakwaan murni dari kalbu kita kepada Allah SWT.

Bentuk ‘Ubudiyyah kalbu kepada hal-hal selain daripada Allah SWT sangat beragam. Terkadang ketaatan dan pelayanan kepada uang, terkadang kepada kekuasaan dan posisi, terkadang kepada perempuan atau laki-laki; dan hal-hal lain yang sangat disukai oleh manusia. Namun apapun yang disukai manusia dapat menurunkan ketaatan dan pemujaan kepada Allah SWT atau bahkan dapat meniadakan Allah SWT dalam kalbunya. [Penghambaan Hati oleh Syekh Sulaiman as-Sulaime: Al-Ibanah, terbitan no.1 1415H].

Jadi, sumber yang paling utama dari kedamaian dan kenyamanan yang mereka sedang cari dalam kehidupannya, hanya dapat berasal dari kecintaan mereka kepada Allah, dan keterkaitan kepada tiap orang dan tiap benda yang diperlukan oleh kecintaan tersebut dan tuntutan kecintaan itu.

Abu Bakar Al-Kataanee berkata “sebuah diskusi tentang cinta [mahabbah] terjadi di Mekah, selama musim haji. Syekh yang melontarkan topik pembicaraan ini, dan Al-Junaed adalah yang termuda di antara hadirin majlis itu. Beliau berkata kepadanya, “apakah yang engkau katakana, hai orang Irak ?”, sehingga Al Junaed menundukkan kepalanya dan matanya berkaca-kaca, kemudian ia berkata “seorang pelayan seharusnya mengendalikan jiwanya, dan secara terus-menerus mengingat Tuhannya, mengukuhkan hak-hak Tuhannya, focus kepadaNya dalam kalbunya, cahaya ketakutan terpatri di kalbunya, minum dari gelas cinta yang murni, dan beberapa realita tersembunyi disingkapkan padaNya. Jadi saat ia berkata, perkataannya karena Allah, saat ia berbicara, pembicaraannya dari Allah, saat ia bergerak, gerakan itu atas perintah Allah, dan saat ia mengingatkan, maka itu berasal dari Allah, dirinya adalah milik Allah, untuk Allah, dan bersama Allah.” Mendengar perkataan ini, sang Syekh kontan menangis, dan ia berkata, “tiada hal yang luput disebutkan, semoga Allah Memberi pahala padamu atas mahkota dari orang yang mampu berpengetahuan.”

Ujian Cinta Sejati

Dalam Fath ul-Majeed Sharh kitab At Tawheed [halaman 470-473] Syekh ‘Abdur-Rahman Ibnu Hasan berkata “Allah SWT, Sang Maha Raja Tertinggi bersabda, “jika engkau benar-benar mencintai Allah, ikutilah Aku, dan Allah Akan Mencintaimu.” [QS Ali Imran ayat 31]. Ayat ini dikenal pula dengan sebutan Ayaatul-Mahabbah [ayat tentang Cinta].

Beberapa Salaf pernah berkata “orang yang mengatakan bahwa mereka mencintai Allah SWT, maka Allah SWT, Sang Maha Raja Tertinggi, menurunkan ayat tentang Mahabbah [Cinta] yaitu “jika engkau benar-benar mencintai Allah, ikuti Aku, dan Allah akan Mencintaimu.”.” [Al Hasan Al Basri, diriwayatkan pada tafsir Ibnu Katsir (1/366)].

Oleh karena itu ayat ini mengindikasikan pembuktian dan bukti-bukti Cinta [mahabbah] dan buah dari cinta itu beserta keuntungan-keuntungannya. Jadi, dari pembuktian Cinta [mahabbah] dan pertanda yang jelas adalah ikutilah RasulNya [Nabi Muhammad SAW]; dan dari hasilnya serta benefitnya adalah bahwa Allah Akan Mencintaimu. Jadi, siapapun yang tidak berusaha mengikuti Rasulullah [Nabi Muhammad SAW], maka orang itu tidak akan tersentuh cinta Allah.

Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana kita dapat menemukan atau mengembangkan cinta sejati ini ? ...

Ibnu Al Qayim (rahimullah) berkata : “
Hal-hal yang menyebabkan Mahabbah [cinta] Allah SWT untuk tumbuh berkembang adalah :

PeRTaMa
Membaca Qur’an, merefleksikan dan mengerti kandungan dan maknanya.

KeDuA
Mendekati Allah SWT, Sang Maha Raja Tertinggi, melalui ibadah-ibadah pilihan, setelah memenuhi ibadah wajib.

KeTiGa
Secara terus-menerus dalam zikir [ingat] kepada Allah SWT, dengan lidah, hati dan jiwanya, dalam segala kondisi. Semakin konstan berzikir, semakin berkembang dan intens rasa cinta itu.

KeEmPaT
Memberikan lebih dahulu apa yang Allah cintai di atas cinta pribadi, ketika diri dikuasai oleh keinginan diri.

KeLiMa
Mengenali dan mengingat pemberian dan kenikmatan yang Allah SWT berikan baik manifestasinya di keseharian maupun yang bersifat tersembunyi [tak nampak mata].

KeEnAm
Menjadi rendah hati dan taat di hadapan Allah SWT, dan ini hal yang paling penting.

KeTuJuH
Membaca Qur’an, selama waktu dimana Allah SWT Turun ke surga terendah [yaitu saat sepertiga malam terakhir], menyelesaikan bacaan Qur’an ini dengan memohon ampunan dariNya dan tafakur pada Allah SWT.

KeDeLaPaN
Duduk bersama orang-orang yang mencintai Allah SWT dengan tulus hati, rauplah manisnya buah dari pembicaraan mereka, dan tidak bicara kecuali ada manfaat di dalamnya, dan bahwa engkau tahu pembicaraan itu akan meningkatkanmu dalam kebaikan dan akan bermanfaat bagi orang lain.

KeSemBiLan
Menjauhi seluruh sebab yang menjadikan kalbumu jauh dari Allah SWT, Yang Maha Kuasa dan Maha Pencipta.

Itulah alasan-alasan yang menyebabkan orang dapat mengembangkan cinta sejati untuk Allah SWT dan untuk mencapai tingkatan Al-Mahabbah, denganmana ia meraih kecintaanNya [Madariyus Salikin (3/17-18)].

Oleh karena itu saudara-saudaraku muslimah yang disayangi Allah, peganglah kuat-kuat akan hal ini, implementasikan, raihlah, rajutlah kesemuanya ke dalam kehidupanmu, dan insyaAllah engkau akan faham arti dari Cinta Sejati.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License

1 comment: