Tuesday, December 30, 2008

~ O ~

oleh FK Djuwono


Betapa Agung segala yang dikreasiNya
Kreasi dalam bentuk nyata maupun tidak nyata
Titik-titik itu sejatinya sebuah pola
Menjadi bentuk kala isi di antaranya ada

Terkadang satu titik terlewat begitu saja
Hingga pola itu menjadi tidak sempurna
Adapun rupa bukanlah tujuan utama
Makna hakikat di dalamnya pengingat jiwa

Berawal dari titik
Kembali kepada titik
Bak lingkaran tanpa awal akhir
Kosong dalam batas terukir


*note : this is small part of my strings for ~ O ~

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 License

Sunday, December 28, 2008

Syair Manifestasi Nama-nama Al Haq

Syekh Abdul Karim Ibnu Ibrahim Al Jaili


Ku jawab seruan hamba yang memanggil dengan namanya
Ia tidak mengira bahwa sebutan namaNya adalah juga namaKu

Namanya dan nama Diri Ku adalah satu jiwa [ruh]
Sungguh sangat menakjubkan, satu jiwa [ruh] dalam dua jisim

Setiap hamba memiliki dua nama, namun satu zat
Jika salah satu dari dua nama kau sebut, zat pasti ikut terpanggil

Zat Diri Ku adalah zatnya, nama Ku adalah namanya
Keadaan setiap hamba adalah Tunggal dengan keadaan Diri Ku

Kau akan sulit menelisik hakikat ketunggalan nama ini
Akan tetapi, seperti apa rasa jiwamu ketika kau rindu kekasihmu ?

Aku Ku adalah aku mu. Dia mu adalah dia Ku
engkau adalah Diri Ku dan Aku adalah dirimu

Ruh dirimu adalah satu dalam ketunggalan Ku
Dalam realitas wujud, tampak sendiri-sendiri

Itulah wujud dirimu, sebelum dan sesudah penciptaanmu
Sebagaimana keadaan Diri Ku, sediakala dan yang akan datang

Luhurkan ruh dirimu, akan Aku singkapkan hijab dirimu
Tirai penghalang dirimu dan Diri Ku adalah matinya Qalbumu

Saksikan Diri Ku dengan melihat kesejatian Diri Ku
Dalam setiap keindahan dan kesempurnaan, pandanglah Diri Ku

Keindahan dan kesempurnaan Diri Ku sangatlah jelas
Tradisikan semua itu dalam dirimu, engkau akan melihat Diri Ku


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 License

Syair Manifestasi Sifat-sifat Al Haq

Syekh Abdul Karim Ibnu Ibrahim Al Jaili


Khalifah hanyalah istilah untuk menamai wujud
Kekuasaan khalifah adalah Majaz, Yang Esalah Sang Penguasa

Khalifah adalah nama Kiasan dalam realitas wujud
Sejatinya Pemimpin dan Penguasa adalah Yang Maha Tunggal

Manakala Cahaya-Nya terbit terang dalam Qalbumu
Nama-namaNya akan menghiasi “laku” dirimu di realitas wujud

Sirnakan dirimu ke dalam ekstase nama-nama Diri Nya
Kau akan menjadi “landasan” Tajalli asma-asmaNya di alam ini

Dirimu sama persisnya sebelum dan sesudah penciptaanmu
Seperti halnya AdaNya, seperti sediakala dalam keazalian Diri Nya

Deburan asma-asmaNya disurung tiupan keTunggalanNya
Gulungan ombak lautan sedasyat apapun berasal dari satu samudera

Deburan air yang semburat digerakkan oleh satu gelombang
Semua gerak apapun bentuknya digerakkan oleh zat Yang Maha Esa

Wahai Ruh segala ruh, dan ayat-ayat agung,
Wahai pelipur lara setiap hati yang berduka nestapa

Wahai muara segala harapan dan cita-cita
Ujaran kalamMu sungguh sangat manis bagi diriku

Wahai Ka’bah segala hakikat dan kesucian
Wahai Arafah kegaiban, Wahai Pengkobar rindu

Kami datang kepadaMu, dengan fana’ kami
Kami tukar semua dunia kami dengan akhirat Mu

Jika bukan karena Mu, niscaya kami tidak berwujud
Andai bukan karena Mu, niscaya tidak paham kesejatian Mu

Engkau adalah muara segala keagungan dan kemuliaan
Hanya kepada Diri Mu segenap faqir memuarakan kebutuhan

Pola dan aturan zaman ini sesuai kehendakMu
Engkau adalah Maula, dan kami abdiMu

Ayunkan pedang di leher musuh-musuhMu
pedangMu lebih tajam daripada besi paling tajam

beri dan tahan rizki hambaMu, sesukaMu
agar para abdiMu, rajin dan giat mengkais rizkiMu

adakah kebahagiaan yang melebihi dekatMu ?
adakah kepedihan yang melebihi keterpalinganMu ?

Kabulkan harapan mereka yang berbakti
Tolak harapan mereka yang membangkang dariMu

Kau berkuasa memuliakan yang Kau suka
Kau berhak menista yang Kau benci dan murkai

Pengabdian yang nihil keikhlasan akan sia-sia
Ketulusan adalah kunci utama menggapai ridhaMu

Kau Maha Keras siksaMu bagi tiap pendosa
Semua pelaku kemaksiatan tidak akan lepas Dari Mu

Kau adalah Diraja segala pemilik kekuasaan
Kuasa Mu meliputi kekuasaan berdimensi kasat dan gaib

Engkau memiliki Arsy agung poros kemuliaan
Dari atas singgasana Mu Engkau atur segenap karya Mu



Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 License

Manifestasi Sifat-sifat Al Haq

Kitab Insan Kamil fi Ma’rifah al Awahir wa al Awa’il, Syeikh Abdul Karim Ibnu Ibrahim Al Jaili


Jikalau inti [dzat] Al Haq termanifestasikan kepada salah satu dari hambaNya dengan sifat dari sifat-sifatNya, sebutan dan ingatan hamba tersebut selalu beredar di-falak sifatNya dengan cara Kulli [universal] dan bukan dengan cara juz’i [partular]. Kedua sifat [kulli dan juz’i] itu tidak akan mungkin dipisahkan dari diri para hamba, melainkan dengan cara global. Jika seorang hamba memujikan salah satu namaNya dan menyempurnakannya dengan harapan global, maka ia akan dapat menduduki singgasana Arsy sifat tersebut, dan ia akan disifati dengan sifatNya. Ketika hamba itu menerima sifatNya yang lain, demikian seterusnya hingga ia dapat mewadahi nama-nama Al Haq dalam dirinya, sehingga sifat-sifatNya benar-benar sempurna dalam diri hamba tersebut. Kemudian ketahuilah manakala Al Haq hendak memanifestasikan DiriNya dengan nama-nama atau sifat-sifatNya kepada salah satu hambaNya, Dia akan mensirnakan diri hamba tersebut fana’ bersama Diri Nya, Dia leburkan eksistensi [wujud] hamba itu dalam kesirnaan bersamaNya.

Manakala cahaya kehambaan telah padam, dan ruh kemakhlukan telah sirna [fana’], Al Haq akan mencitrakan DiriNya pada struktur kemanusiaan hamba tersebut, tanpa Hulul [pantaisme], inti [dzat]-Nya tidak menempati jisim [tubuh] hamba itu, kasih kelembutan-Nya tidak terpisahkan dari hamba tersebut. Dia juga tidak tersambungkan dengan hamba-Nya yang lain sebagai ganti atas peleburan dan kesirnaan struktur jisim hamba-Nya. Sebab manifestasi-Nya, kepada para hamba-Nya adalah semata-mata karena kasih Fadhal [keutamaan] dan kasih Al Juud [kepemurahan] Al Haq kepada para hambaNya. Jika para hamba itu difana’kan, lalu Dia tidak mengganti kefana’an mereka dengan kasih keutamaan dan kepemurahanNya, maka kesirnaan seperti itu adalah Niqmah [bencana]. Kasih kelembutan itu sejatinya adalah ruh Al Quddus [ruh suci]. Manakala Al Haq menegakkan kasih kelembutan dari inti [dzat]-Nya, sebagai ganti atas kefana’an hambaNya, maka manifestasi kelembutan kasih tersebut merupakan esensi tajalli DiriNya. Hanya saja kita menamakan kasih kelembutan Ilahiyah dalam dimensi ini dengan sebutan al Abd’ [hamba], dengan I’tibar ia [kelembutan kasih ini] merupakan ganti atas hamba, sebab jika tidak demikian, maka tidak akan ada hamba atau Rabb. Semantis logikanya, jika tidak ada Al Marbuub [yang diatur] maka tidak ada Rabb [pengatur], yang ada hanyalah Allah semata, Tuhan Yang Maha Esa.

Ketahuilah, bahwasanya manifestasi sifat-sifat al Haq, ibarat penerimaan inti [dzat] seorang hamba [dalam bersifat] dengan sifat-sifat ar Rabb, dengan penerimaan secara ushul [dasar] dan hukum serta mutlak, seperti penerimaan sesuatu yang disifati dengan sifat yang mensifatinya. Karena kelembutan kasih ketuhanan yang terlanskapkan pada diri seorang hamba, tegak bersama struktur diri hamba tersebut, serta merupakan ganti atas dirinya. Maka sifat-sifat ketuhanan yang melanskapi hamba tersebut, merupakan sifat dasar [ushul] dan mutlak. Manakala seorang hamba mensifati dirinya dengna sifat-sifat ketuhanan, maka sifat al Haq adalah sifat hamba tersebut dan sifat si hamba adalah sifat al Haq. Ada banyak ragam penyingkapan manusia dalam manifestasi sifat-sifat al Haq ini. Penerimaan mereka akan manifestasi tersebut tergantung dari kemampuan [kapabilitas] yang mereka miliki, sejalan dengan kapasitas keilmuan yang mereka punyai, serta kekuatan azam [hasrat kuat] yang ada pada diri masing-masing seorang hamba.

Di antara mereka yang ditajalikan kepadanya dengan sifat-sifatNya al Hayatiyah, maka jadilah hamba tersebut sentra Hayah [hidup] alam semesta, ia dapat memakrifahi rahasia hidupnya dalam Maujudat [segala wujud] secara universal, baik yang berdimensikan jasadiya [badan kasar] maupun dimensi ruhiya [ruh]. Ia bisa memahami makna-makna segala wujud dan mencitrakannya dalam dirinya, yang dengan itu tegaklah sendi-sendi hidup dan kehidupannya secara hakiki, boleh jadi citra makna-makna itu berupa al Aqwaal [perkataan-perkataan] atau al A’maal [perbuatan-perbuatan], bisa juga berupa citra dimensi kelembutan semisal al Arwah [ruh-ruh] atau citra al Katsib [alam kasar] semisal al Ajsaam [tubuh-tubuh kasar]. Lain halnya jika hidup dan kehidupan hamba tersebut mampu Syuhud [menyaksikan], mampu menggapai Dzauq al Wujdan [pengetahuan intuitif], serta mampu memahami makna-makna tersebut dalam dirinya tanpa wasilah [perantara]. Sang hamba akan mampu menggapai Kasyf Ilahiyah [intuisi ketuhanan], serta memukasyafahi inti [dzat]-Nya. Pahami dengan seksama masalah ini.

Syekh Abdul Karim Ibnu Ibrahim Al Jaili, secara pribadi pernah merasakan tajalli sifat ini, yang sedemikian itu, ia menyaksikan hidup dan kehidupan segala wujud dalam dirinya. Dia melihat Qadar segala sesuatu yang maujud [ada] dalam kehidupannya, semuanya berjalan sesuai dengan kehendak inti [dzat]-Nya. Dia pada tajalli tersebut hidup esa, tidak terpisah dengna inti [dzat], hingga tangan pertolongan-Nya memindahkan diri saya dari tajalli inti [dzat]-Nya kepada tajalliyat-Nya yang lain. Sang Syekh melebur dalam manifestasi-manifestasiNya. Diantara mereka yang ditajalikan kepadanya dengan sifatNya al Ilmiyah, yang sedemikian itu, tatkala al Haq memanifestasikan Diri-Nya dengna sifat Al Hayatiyah, yang terlanskapkan dalam segala wujud. Segala al Mumkinaat [sesuatu yang mungkin]. Pada saat itu al Haq memanifestasikan Diri-Nya pada hamba tersebut dengan sifat-Nya al Ilmiyah, maka hamba itu bisa mengetahui kesejatian ragam alam [semesta] seperti sebelum dan pasca penciptaannya. Ia bisa mengetahuinya segala sesuatu, mulai pra penciptaan, prosesi penciptaan dan tujuan akhir dari penciptaan segala wujud, ia juga bisa mengetahui sesuatu yang belum dijadikan, serta ahir dari sesuatu yang telah dan akan terjadi. Ia bisa mengetahui sesuatu yang akan terjadi, esensinya pengetahuan hamba itu menembus dimensi ruang dan waktu, serta melintas batas logika. Kesemua itu merupakan ilmu yang datang dari al Haq melalui pembelajaran langsung dariNya, serta Wujdaan dari inti [dzat]-Nya yang tersimpan rapi di Ghaib al Ghaib [kegaiban misteri], bisa dimakrifahi, baik rahasia ilmuNya yang bersifat universal maupun parsial, global maupun partikular, dan untuk menguak tabir kegaiban yang misteri itu adalah dengan Kasyaf [pengetahuan intuitif].

Ketahuilah bahwasanya ilmu Laduni [ilmu yang berasal dari pembelajaran langsung dari al Haq – ref. QS Al Kahfi ayat 65], ilmu Dzati [ilmu yang terkait dengan inti [dzat]-Nya] diturunkan secara partikular dari Ghaib al Ghaib [kegaiban yang gaib], ke Syahadah asy Syahadah [realitas yang riil], bisa disaksikan rincian globalitasnya dalam kegaiban, dan bisa diketahui universalitas Kulli-nya dalam kegaiban yang gaib. Sedangkan ilmu Shifati [ilmu yang berdimensikan sifat-sifatNya], tiada akan pernah bisa diketahui, melainkan pasca terjadinya sifat tersebut dalam kegaiban yang gaib. Semua perkataan tersebut tidak akan bisa dipahami kecuali oleh al Ghuraba’ [insan-insan yang gharib], tidak ada yang bisa merasakan, kecuali para pejalan yang telah menggapai Kasyf [pengetahuan intuitif]. Di antara mereka ada yang ditajallikan kepadanya dengan sifatNya al Bashar, yang sedemikian itu tatkala Dia memanifestasikan Diri-Nya kepada hamba tersebut dengan sifat al Bashariyah [penglihatan], al Ilmiyah [pengetahuan], al Ihaathiyah [peliputan] dan al Kasyfiyah [intuisi]. Dia memanifestasikan Diri-Nya kepada hambaNya dengan sifat al Bashar [melihat]. Maka penglihatan hamba itu merupakan sumber ilmunya, demikian pula dengan rujukan ilmunya bermuarakan kepada al Haq, bisa juga rujukan ilmu hamba itu dimuarakan kepada makhlukNya, namun penglihatannya bermuarakan kepada al Haq, ia dapat melihat segala wujud [Maujudaat], seperti ketika Maujudaat itu berada di kegaiban yang gaib [Ghaib al Ghaib].

Sungguh merupakan kenaifan yang sangat telanjang, banyak suatu keterpesonaan yang mentakjubkan dalam tajalli ini, namun banyak diacuhkan oleh kebanyakan orang, mereka bahkan menafikan kenyataan tersebut dalam alam asy Syahadah [alam realitas]. Cobalah anda memfokuskan diri menyaksikan pemandangan ketinggian nan agung ini, serta panorama tajalli yang terang dan jelas, betapa mentakjubkan, betapa asyiknya tajalli ini, betapa banyak keterpesonaan yang ada dalam manifestasi ini. Jangan jadikan diri anda manusia yang memiliki penglihatan sehat dan jelas, namun tidak mampu menembus pandangan yang terang dan jelas. Sebab banyak sekali para hamba yang ditajallikan sifat-sifatNya pada dirinya, namun sifat kemanusiaannya masih dominan dalam dirinya, sehingga sifat-sifat ketuhananNya terpinggirkan dari dirinya. Padahal manakala sifatNya dan sifat hamba tersebut menjadi tunggal, tidak ada dualisme sifat disitu, namun hanya sedikit sekali yang mampu memukasyafahi tajalli ini, yakni kegaibanNya tidak mampu disaksikan kehadirannya, kecuali oleh sedikit insan saja. Penampakkan al Haq pada hambaNya melalui sifatNya merupakan bentuk pemuliaan Diri kepadanya inti [dzat]-Nya, yang kehadiran-Nya adalah kegaiban hamba-Nya dan kegaibannya adalah kehadiran al Haq.

Di antara mereka ada yang ditajallikan kepadanya dengan sifat-sifatNya as Sam’u yang dengan itu hamba tersebut dapat mendengar perkataan al jamadaat [benda-benda padat], tumbuh-tumbuhan, hewan-hewan, serta perkataan para malaikat dan bisa menyimak ungkapan multi bahasa serta ujaran-ujaran makhluk yang lain. Demikian pula sesuatu yang jauh bagi hamba itu terasa dekat, yang sedemikian itu, tatkala al Haq memanifestasikan DiriNya dengan sifatNya as Sam’u, hamba tersebut bisa mendengar dengan kekuatan ke-Esa-an sifat tersebut ragam bahasa, multi ujaran komunikasi benda-benda padat dan hewan-hewan. Dalam etos tajalli ini Syekh Abdul Karim Ibnu Ibrahim Al Jaili telah menyimak ilmu Rahmaniyah dari ar Rahman, telah belajar membaca Al Quran secara hakiki, beliau pun merasa tidak lebih dari sebuath ar Rithlu [delapan ons] sedangkan DIA adalah al Mizaan [neraca timbangan]. Realita ini tidak bisa dipahami, kecuali oleh ahli Qur’an yang merupakan ahli keilahian yaitu insan-insan khawas [golongan istimewa] yang menjadi kekasihNya. Di antara mereka ada yang ditajallikan kepadanya dengan sifatNya al Kalaam, yang dengan itu semua Maujudaat [segala wujud], berasal dari Kalaam hamba tersebut, sebab tatkala al Haq memanifestasikan DiriNya, kepada hamba itu melalui sifatNya al Hayatiyah. Kemudian Dia mengajari hamba itu dengan sifat ‘AliimNya, bahwa segala rahasia hidup dan kehidupan berasal dari DiriNya, lalu Dia memperlihatkan dan memperdengarkan hamba itu dengan sifat al Bashar dan as Sam’u-Nya berikut dengan kekuatan ke-Esa-an hidup. Dia jadikan hamba itu berbicara dengan Kalam-Nya, jadilah segala wujud dair kalamNya. Saat itulah sang hamba menyaksikan dengan kalamNya, dalam capaian spiritual ini keazalian segala sesuatu seperti sedia kala, kalimatnya tiada akan pernah habis dan tidak pula berakhir.

Dengan tajalli ini al Haq beraudiensi dengan hambaNya tanpa Hijab [tirai penghalan] nama-nama pra penampakannya. Di antara para audien tersebut ada yang bisa beraudiensi dengna inti [dzat]-Nya dari dalam dirinya, ia menyimak pembicaraan yang datang bukan dari salah satu arah tertentu, bukan pula dengan suara, penyimakannya akan ujaran-ujaran tersebut secara ke-universal-an dan bukan dengan telinga. Dikatakan kepada hamba tersebut :
kau adalah cinta Ku, kau adalah kekasih Ku, kau adalah insan yang dicari dan diharapkan, kau adalah wajah Ku pada segenap hamba, kau adalah harapan utama, kau adalah pencarian tertinggi, kau adalah rahasia Ku dalam segala rahasia, kau adalah cahaya Ku dalam segala cahaya, kau adalah permata Ku, kau adalah perhiasan Ku, kau adalah keindahan Ku, kau kesempurnaan Ku, kau nama Ku, kau inti [dzat]-Ku, kau sifat Ku. Aku adalah namamu, Aku adalah citramu, Aku adalah tandamu, Aku metaformu. Duhai kekasihKu, kau adalah penolong segala wujud, kau adalah maksud dari segala wujud dan Huduts [kebaruan]. Dekatkan dirimu kepada penyaksianKu, maka Aku akan dekatkan diriKu kepadamu dengan wujudKu, jangan kau jauhkan dirimu dari Ku, sebab Akulah yang berfirman : “Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” [QS Qaaf (50) ayat 16].

Jangan kau belenggu dirimu dengan isim [nama] seorang hamba, kalau bukan karena adanya Rabb, maka tidak akan pernah ada ‘Abd [hamba]. kau tampakkan Diri Ku, seperti Aku tampakkan dirimu, kalau bukan karena ubudiyah [ritus peribadatan]mu, niscaya tidak akan tertampakkan Rububiyah [ketuhanan] Ku, kau menjadikan Diri Ku tertajallikan, seperti halnya Aku menjadikan dirimu, kalau bukan karena wujudmu, maka wujud tajalli Ku tidak tersibakkan, cinta Ku paling dekat dari segala yang terdekat. Cinta Ku paling tinggi dari segala yang tertinggi, cinta Ku menghendaki dirimu untuk pensifatan Diri Ku. Aku pilih dirimu untuk Diri Ku, jangan kau keluarkan dirimu untuk selain Diri Ku, jangan keluarkan Diri Ku dari dirimu. Cinta Ku adalah sari dalam buah, cinta Ku adalah garam dalam makanan. Imajinasi Ku dalam ke-absurd-an, logikamu dalam pengetahuan. Cinta Ku, menjadikan Diri Ku terasa dalam jangkauan inderawi, membuat Ku tersentuh dalam sentuhan. Kekasih Ku, kau adalah muara harapan Ku, sentra penglihatan Ku, media kasih kelembutan Ku. Betapa indah kebersamaan Ku denganmu, betapa syahdu keintimanmu dengan Diri Ku.

Di antara para audien itu ada yang diajak bicara al Haq melalui lisan makhluk [ciptaan]Nya, ia menyimak pembicaraan dari satu arah tertentu, akan tetapi ia sangat mafhum [faham], bahwa ungkapan itu bukan keluar dari arah tersebut, meski berwujud ungkapan yang keluar dari lisan makhlukNya. Ia bisa memakrifahi sejatinya perkataan tersebut berasal dari al Haq adapun ragam pembicaraannya sangatlah banyak, yang tidak mungkin kita rinci dalam karya ini. Diantara para audien itu ada yang dilanglang buanakan al Haq dari alam jisim ke alam ruh, audiensi bentuk ini merupakan tingkatan tertinggi. Di antara para audien itu ada yang diajak bicara al Haq melalui hatinya, di antara mereka ada yang diterbangkan dengan ruhnya ke lapisan pertama langit dunia, ada pula yang diterbangkan dengna ruhnya ke langit lapis kedua dan ketiga, diantara mereka ada yang diterbangkan ke Sidratul Muntaha, dan diajak bicara disana. Tingkat pembicaraan masing-masing insan yang diajak bicara al Haq tersebut, tergantung daripada kemampuan mereka memasuki dan memakrifahi dunia hakikat, sebab al Haq tidak akan meletakkan sesuatu melainkan pada tempatnya.

Pada saat pembicaraaan itu, di antara mereka ada yang diberikan contoh [permisalan] cahayaNya yang dengan itu ia menjadi sumber segala cahaya, di antara mereka ada yang dinisbatkan kepadanya menjadi al Munir [yang menerangi] bersumberkan cahayaNya. Di antara mereka ada bisa melihat cahayaNya dalm batinnya, yang dengan itu ia bisa mendengar pembicaraan dari arah cahaya Ilahiyah [ketuhanan] tersebut, ia bahkan bisa melihat ragam cahaya ketuhanan dengan berbagai citra. Di antara mereka ada yang melihat citra ruh, yang memanggil-manggil dirinya, kesemua itu tidak dinamakan al Khitab [pembicaraan], kecuali jika diberitahu al Haq bahwasanya Dia-lah sejatinya al Mutakallim [Sang Pembicara]. Kalamullah, adalah sebuah realita yang sangat nyata, tidak membutuhkan dalil untuk mengetahuinya, bahwa kekhususan Kalamullah tidak samar [tersembunyi]. Orang seorang yang menyimak Kalamullah tidak menghajatkan dalil maupun keterangan, terlebih al Burhan [aksioma], sebab dengan penyimakan tersebut sang penyimak memakrifahi [memahami] dengan penuh keyakinan bahwasanya Kalam [ujaran] itu adalah Kalamullah. Di antara yang diajak bicara itu ada yang diangkat ke Sidratul Muntaha, al Haq berbicara kepadanya :
KekasihKu, ke-aku-anmu adalah ke-Dia-an Ku, kau adalah permata Ku. Kekasih Ku, ke-universal-anmu adalah ke-Esa-an Ku, engkaulah harapan Ku, Aku adalah untukmu bukan untuk Diri Ku, kau adalah yang Ku inginkan, kau untuk diri-Ku bukan untuk dirimu. Cinta Ku ... kau adalah nuqta [titik], di atas peredaran wujud, kau adalah cahaya. Kau adalah manifestasi, kau adalah kebaikan, kau adalah perhiasan, laksana mata dalam struktur tubuh manusia.

Diantara para audien itu ada yang dipanggil, melalui dimensi kegaiban, serta dapat mengerti warta-warta sebelum terjadi, yang sedemikian itu terjadi karena permintaan mereka kepada al Haq untuk diberitahu, dan Diapun mewartakan ujaran-ujaran tersebut. Di antara mereka ada meminta karamah [kelebihan], al Haq pun memuliakannya dengan karamah, sebagai dalilnya untuknya jika kembali ke alam indrawi, serta untuk mengeksiskan capaian spiritual [maqom] nya di hadapan al Haq. Kita cukupkan paparan perihal al Mukallimin [insan yang diajak bicara] al Haq sampai disini. Kita kembali ke pokok kajian manifestasi sifat-sifatNya.

Di antara mereka ada yang ditajallikan kepadanya dengan sifat-sifatNya al Iradah. Ketahuilah bahwasanya wajah kehidupan makhluk adalah sejalan dengan iradah [kehendak] al Haq, manakala Dia bermanifestasikan dengan sifat al Mutakallim [berbicara], Dia beraudiensi dengan ke-Esa-an al Mutakallimin [ujaran-ujaran]Nya kepada segenap makhlukNya, al Mutakallimin [para audiens]-pun menyimak ajaran-ajaranNya sejalan dengan kehendakNya.
Mayoritas para insan yang telah Wushul [sampai] pada tajalli ini, kembali mundur ke belakang. Mereka mengingkari al Haq dengan apa yang mereka lihat, yang sedemikian tatkala al Haq mempersaksikan kepada mereka dengan kesaksian inti [dzat] bahwa segala sesuatu berjalan dengan IradahNya di alam Ghaib Uluhiyah [ketuhanan]. Mereka lantas mencari penyaksian tersebut dalam diri mereka di alam realita ini, jelas realita itu mustahil terjadi di alam Syahadah [alam realita] ini, karena hal itu merupakan kekhususan dua inti [dzat]. Mereka lalu mengingkari kesaksian inti itu, yang menyebabkan mereka melangkah mundur, dan hancurlah kaca kalbu mereka, lantas mengingkari al Haq. Padahal mereka telah menempuh raihan Syuhud [penyaksian], serta hilang [gaib] sesudah wujud.

Diantara mereka ada yang ditajallikan kepadanya dengan sifatNya al Qudrah, segala sesuatu terjadi dengan qudrahNya di alam gaib, Dia menampakkan contoh-contoh produk kegaiban tersebut di alam kasat mata ini. Jika seorang hamba terus intensif memelihara tajalli ini, maka capaian spiritualnya akan meningkat, akan ditampakkan kepadanya segala sesuatu yang disembunyikan-Nya.
Pada tajalli ini Syekh Abdul Karim Ibnu Ibrahim Al Jaili telah mendengar Shalsahalah al Jaros [bunyi lonceng], struktur tubuh beliau terpencar, citranya semburat, namanya terhapus, karena keterpesonaan [Haybah] nya yang amat sangat, beliau seperti kain koyak yang tergantung di puncak pohon, dihempas angin kencang, lambat laun terlempar dari pohon tersebut. Pada kondisi spiritual seperti itu, beliau tidak melihat, melainkan Buraq, awan putih yang kemilau yang mengguyurkan hujan cahaya-cahaya, serta samudera yang berombak api, bumi dan langit ini serasa berbenturan, beliau merasa berada di kegelapan yang gelapnya berlapis-lapis. Qudra itu terus menciptakan untuk dirinya kekuatan-kekuatan Haybah [kedasyatan], Qudra itu membakar dirinya dengan nafsu-nafsu, hingga Sang Maha Perkasa membawanya ke hanggar keilahian, tampak keindahan yang terindah dalam teropong lubang jarum imajinasi, semburat semua khayal. Imajinasi menari-nari membentangkan karya ciptaan dan asumsi beliau menari-nari ingin merentah dirinya, pada waktu itu terciptalah segala sesuatu. Setelah beliau kembali kepada rasi-rasi bintang [falaq] al Mulk kekuasaan-Nya, tiba-tiba terdengar suara keilahian :
“wahai langit dan bumi, datanglah kamu keduanya menurut perintahKu, dengan suka hati atau terpaksa.” [QS Fushilat (41) : 11]

Di antara wajah manifestasi [Tajalli as Shifat] ini adalah, polarisasi obsesi manusia-manusia yang bercita-cita besar, wajah tajalli ini terwajahkan dalam dunia imajinasi, terdapat di dalamnya kreasi imajinatif yang penuh dengan keghariban dan keajaiban. Tajalli ini juga menampakkan sihir kelas tinggi, dalam manifestasi ini : penghuni surga berbuat apa saja yang mereka kehendaki, juga keajaiban benih yang ada di tanah yang dipakai menciptakan Adam as, seperti yang telah disebutkan Ibnu Arabi dalam kitab beliau. Dalam tajali ini : manusia yang berjalan di atas air, terbang di udara, mampu menjadikan sesuatu menjadi banyak, dan banyak menjadi sedikit, dan banyak lagi panorama kejadia luarbiasa dengan segala wacana dan dimensinya. Janganlah kalian menjadi heran, sebab semua kejadian yang ada, sejatinya adalah satu macam, namun memiliki ragam wajah, kenyataan itu melahirkan dimensi kebahagiaan dan kepedihan, seorang yang bisa memaknai secara hakiki akan bahagia, insan yang menafikan dan tidak menemukan makna hakiki akan sedih. Pahami seksama metafora dan isyarat yang ada.

Kami telah berusaha memaparkan paradoks, metafor-metafor, isyarat-isyarat yang berserak dari realita yang ada dengan kemampuan kami, karena kedalaman rahasia yang tersimpan di dalamnya memerlukan tafakur yang optimal untuk menyingkapnya. Jika nantinya anda benar-benar mampu menggapai capaian pemahaman hakiki dalam tajalli ini, anda akan mampu menyibak rahasia Qudrah yang terhijab dan tersimpan. Pada khazanah capaian ini, anda bisa berkata kepada sesuatu : Kun [jadilah] Fa Yakun [maka jadilah] sesuatu yang anda ujarkan tersebut, itulah sejatinya amar-Nya yang terdapat di antara Kaf dan Nun.
Di antara mereka ada yang ditajallikan kepadanya dengan sifatNya ar Rahmah, yang sedemikian itu setelah dinisbatkan kepadanya Arsy ketuhanan [Rububiyah], dan dikuasakan kepadanya sifat RabbNya, diletakkan kepadanya Kursi kemampuan Maujudaat [segala wujud] dengan mediasi hamba tersebut, itulah sejatinya Kursi inti [dzat]-Nya, penggerak sifat-sifatNya, ia melantunkan ayat-ayat :
“Katakanlah : Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang-orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki, Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang, dan Engkau masukkan siang ke dalam malam, Engkau keluarkan hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup, dan Engkau beri rizki siapapun yang Engkau kehendaki tanpa hisab.” [QS Ali Imran (3) ayat 26-27].Kesemua itu di alam gaib-Nya tersucikan dari keraguan, serta sebuah kemestian yang tak terbantahkan, disinilah esensi perbedaan di antara dua sifat dan dua inti [dzat]. Di antara mereka ada yang ditajallikan kepadanya dengan sifatNya al Uluhiyah, dalam tajalli ini berkumpul dua sifat yang bertolak belakang, semisal hitam putih, lapang sempit, termasuk juga alam kerendahan dan alam ketinggian. Pada fase ini nama dan sifat tak terlogikan, kulit dan isi telah terkupas, segala sesuatu terlihat : “Laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tapi bila didatanginya air itu, dia tidak mendapatinya sesuatu apapun, dan didapatinya ketetapan Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup.” [QS An Nur (24) ayat 39] diperlihatkan kiri dan kanannya serta dibacakan kitabnya : “Dan dikatakan : Binasalah orang-orang yang zalim.” [QS Hud (11) ayat 44]

Ketahuilah bahwasanya Cahaya itu sejatinya adalah kitab yang tertulis, memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki, seperti yang ditegaskan al Haq dalam firman Qur’ani : “Banyak orang yang disesatkan, dan banyak pula orang yang diberi petunjuk.” [QS Al Baqarah (2) ayat 26].

Ketahuilah tiada jalan menuju-Nya tanpa Cahaya, dan ia [Nur] merupakan Shiratullah [jalan Allah]. Seseorang yang berjalan di bawah CahayaNya, akan beroleh petunjuk, sedang yang berjalan dengan selain CahayaNya akan sesat.


Sekilas Otobiografi :

Syeikh Abdul Karim Ibnu Ibrahim Al Jaili terlahir dari klan keluarga sufi agung Syeikh Abdul Qadir Al Jailaini, pada tahun 767H [1366 M] di pemukiman yang bernama Al Jailan, salah satu distrik di kota Bagdad, Irak. Beliau wafat pada tahun 826H atau 1424 M di kota Zabidah, Yaman. Beliau adalah seorang pengembara sejati yang telah berkelana ke berbagai negara. Beliau adalah “penggila” ilmu pengetahuan. Beliau dikenal sebagai sosok penuntut ilmu yang giat, pakar ilmu Geografi, Pedagogi Ilmu Filsafat, Ilmu Logika, Grametika dan Rahasia Huruf, Perbandingan Agama dan Ilmu-ilmu lain yang sedang mewacana di anak zamannya, dan masyur sebagai intelektual nomor wahid. Ia telah mengkaji semua kitab-kitab suci dan aqidah-aqidah agama, sangat mahir bersemantis logika, pembicaraannya sangat tertata, tutur katanya lembut, logikanya sangat teratur, sikapnya sangat santun, ia bersedia belajar kepada siapa saja, selama melahirkan kontribusi positif bagi pengetahuan dirinya dan mendekatkan dirinya kepada Allah. Beliau juga populer sebagai pakar studi ilmu perbandingan agama. Di hadapan pemeluk agama lain, beliau mampu menunjukkan kesejatian Islam, hingga tidak sedikit orang yang memaklumatkan keislamannya di hadapan Al Jaili.



Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 License

Saturday, December 27, 2008

Syukur

Kitab Al Gunyah Li Thalibi Thariqil Haq Fi Akhlaq wa At-Tashawwuf wa Al Adab Al Islamiyyah juz II, Syekh Abdul Qadir Al Jailani


Dasar hukum mengenai syukur adalah firman Allah SWT yang artinya : “Sungguh, jika kamu bersyukur, niscaya Kami akan menambah [nikmat] kepadamu..” Q.S. Ibrahim ayat 7.

Hakikat syukur bagi ahli tahqiq [orang-orang yang mewujudkan sesuatu] adalah mengakui nikmat yang diberikan oleh Sang Pemberi nikmat dengan sikap rendah diri. Dengan makna ini pula, Allah SWT, menyifati diriNya sendiri bahwa sesungguhnya DIA adalah Yang Maha Bersyukur Yang Maha Luas NikmatNya. Artinya, sesungguhnya DIA Melebihi hamba dalam bersyukur sehingga pahala dari rasa syukur itu disebut syukran. Sebagaimana firmanNya yang berarti : “Dan balasan kejahatan itu adalah kejahatan yang seimbang.” [QS Ash-Syura : 40]

Dikatakan pula bahwa hakikat syukur adalah memuji orang yang berbuat baik dengan mengingat kebaikannya. Dengan demikian, bukti rasa syukur seorang hamba kepada Allah SWT yaitu dengan memujiNya, mengingat kebaikanNya kepada dirinya. Bukti rasa syukur Allah SWT kepada seorang hamba adalah dengan memujinya dengan mengingat kebaikanNya kepada hambaNya. Lalu, perbuatan baik seorang hamba, yaitu dengan taat kepada Allah SWT, dan perbuatan baik Allah SWT adalah berupa pemberian nikmatNya kepada seorang hamba. Rasa syukur seorang hamba pada hakikatnya adalah diucapkan dengan lidah, dan diikrarkan di dalam hati akan nikmat Allah SWT.

Syukur terbagi dalam beberapa bagian, yakni syukur lisan yaitu pengakuan seorang hamba akan nikmat diikuti dengan ketundukkan. Syukur badan dan anggota tubuh yaitu dengan melakukan penyembahan [kepada Allah SWT], dan syukur hati yaitu tetap berada dalam pengawasan Allah SWT disertai dengan menghindari hal-hal yang diharamkan.

Disebutkan pula bahwa syukur terbagi ke dalam (1) syukur kedua mata yaitu menutupi kekurangan yang engkau saksikan pada diri sahabatmu, (2) syukur telinga yaitu dengan menutupi kekurangan yang engkau dengarkan pada diri sahabatmu.

Secara umum, syukur adalah engkau tidak berbuat maksiat kepada Allah SWT dengan nikmatNya. Dikatakan pula bahwa syukur terbagi ke dalam (1) syukur para ulama, yaitu syukur yang ditunjukkan dari segi perkataan-perkataan mereka, (2) syukur bagi ahli ibadah, yaitu syukur yang ditunjukkan dari perbuatan mereka, dan (3) syukur bagi orang-orang yang bijaksana, yaitu ditunjukkan melalui kekonsistenan mereka kepada Allah SWT dalam segala kondisi, disertai dengan keyakinan bahwa segala kebaikan yang muncul dari mereka, begitu pula dengan ketaatan dan penyembahan dan zikir kepada Allah SWT yang dikerjakan oleh mereka adalah semata-mata karena petunjuk dan nikmat dariNya, semata-mata karena pertolongan dan kekuasaan Allah SWT, dan karena pengasingan mereka dari semua hal itu, dibarengi dengan pengakuan akan kelemahan, keterbatasan dan kebodohannya, dan ditutup dengan penyerahan diri kepada Allah SWT dalam segala hal.

Abu Bakar Al Warraq r.a. berkata, “syukur nikmat adalah menyaksikan pemberian dan menghindari hal-hal yang diharamkan.” Disebutkan pula bahwa syukur nikmat adalah engkau melihat dirimu sebagai seorang bayi di dalam nikmat itu.

Abu Utsman r.a. berkata, “syukur adalah menyadari kelemahan untuk bersyukur.” Dikatakan pula bahwa bersyukur atas syukur adalah lebih sempurna dari sekadar bersyukur, yaitu engkau melihat rasa syukurmu karena petunjukNya semata, dan petunjuk itu datang karena nikmat yang diberikan kepadamu, sehingga engkau bersyukur atas rasa syukur itu, dan kemudian engkau mensyukurinya atas rasa syukur itu, dan begitulah seterusnya.”

Dikatakan pula bahwa syukur adalah penambah nikmat kepada Sang Pemberi nikmat dengan bersandar kepadaNya. Al Junaidi r.a. berkata, “syukur adalah engkau tidak menganggap dirimu sebagai orang yang pantas mendapatkan nikmat.” Dikatakan pula bahwa orang yang bersyukur adalah orang yang bersyukur terhadap sesuatu yang ada, serta terhadap sesuatu yang hilang. Juga dikatakan bahwa orang yang bersyukur adalah orang yang bersyukur atas adanya suatu manfaat, sedangkan ahli syukur adalah orang yang bersyukur ketika tidak mendapatkan apapun.



Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 License

Thursday, December 25, 2008

Lukisan Kalbu

oleh FK Djuwono


Waktu berlalu bak cahaya berkilat
Semakin dekat akhir penantianku
Momen-momen perjalanan hakikat
Senantiasa indah dalam pandangan kalbu

Tiap detik menghitung masa
Harapan pertemuan kian menggelora
Walau tiap saat dapat bertemu
Namun bukan pertemuan abadiku

Rasa rindu tanpa akhir
Terkadang menyiksa fikir
Rasa cinta bening membara
Membuat diri hilang alfa

Kasih Terkasihku yang selalu dekat
Amat dekat pada diri melekat
Tiada pernah terpisahkan
Tiada pula yang dapat memisahkan

Kesetiaan yang tak teragukan
Kecintaan yang penuh sempurna
Kedamaian yang menyejukkan
Kebeningan dalam terang cahaya



Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 License

Monday, November 10, 2008

Manusia Harus Sadar Diri

Samudra Sufi, Syekh Abdul Qadir Al Jailani


Berkatalah sang Syekh, ”Pada pandanganku, dunia ini ibarat fatamorgana, datang dan pergi, bersifat semu, menipu dan palsu. Karena itu, aku tidak pernah percaya kepadanya, dan sama sekali tidak terpikat olehnya, karena dia datang dan pergi begitu saja. Berkenaan dengan akhirat, di situ aku hanya sebentar saja. Bila aku telaah dan perhatikan keadaannya, ku temukan ada juga kekurangannya. Ia diciptakan untuk makhluk yang ciri-cirinya mirip dengan dunia ini. Di dalamnya aku melihat Allah telah menyediakan tempat untuk memuaskan segala keinginan dalam diri, yakni nafs, dan segala yang menyenangkan mata belaka. Kemudian aku bertanya pada diriku sendiri, ”apa yang diinginkan hati ini ? aku pun memalingkan wajahku kepada ”Tuan” yang Memiliki semua makhluk, yakni Maula, Pengolah, yakni Bari’, Pembuat, yakni Khaliq, dan Pencipta, yakni Muhdits. Apakah ada yang lain selain ”Tuan” ini ?.”

Apabila sang hamba secara sadar mengabdikan dirinya kepada Allah dan menghadapkan wajahnya hanya kepada Allah, Allah akan memberinya ganjaran yang utama, yaitu menggantikan kejahilan dengan ilmu, menggantikan rasa jauh dengan Allah menjadi rasa dekat denganNya, menggantikan sifat tertutup dengan sifat suka bergaul dan bersahabat, menggantikan kegelapan dengan Nur atau Cahaya yang terang benderang, dan seterusnya. Kemana ganjaran yang seperti ini dapat dicari bila tidak berasal dari Tuhan ? karena itu, perbaikilah dirimu supaya engkau termasuk dalam golongan orang yang diberikan karunia utama ini.

Wahai orang yang masih tidur, bangunlah.. karena banjir telah mengelilingimu. Siapa pemimpinmu ? kelak di hari kebangkitan, kamu akan dipanggil untuk memberi keterangan. Apa kitabmu ? siapa nabimu ? siapa gurumu ? siapa pendakwah [da’i] mu ?

Kamu tidak mempunyai hubungan kasih dengan Nabi ketika itu. Hanya orang yang selalu berhubungan kasih dengan Allah dan RasulNya pada hari itu tergolong orang yang bertakwa. Dimana takwamu agar kamu dapat mengatakan bahwa engkau kenal dan dekat dengan Nabimu.

Bukalah matamu sekarang juga. Lihatlah apa yang ada di hadapanmu. Pasukan yang siap menghukummu sedang menuju kepada kamu. Kamu akan ditarik untuk disiksa.
Wahai orang yang bodoh, kamu akan mati. Apa yang kamu usahakan hari ini akan lenyap. Kamu akan meninggalkan istri, anak, kerabat, rekan, handai taulan, rumah tangga, kebun halaman, dan sebagainya. Kamu akan diletakkan di tanah dan diluluhlantakkan. Kamu akan tinggal di dalam kubur bersama Malaikat Zabaniyah, yakni Malaikat penyiksa, ataupun Malalikat Rahmah, yakni Malaikat yang pengasih dan penyayang.
Masing-masing malaikat itu akan menjalankan tugasnya sesuai dengan takaran amal yang telah kamu lakukan. Malaikat Zabaniyyah yang bertugas menyiksa hamba Allah yang lalim akan menjalankan tugasnya tanpa belas kasihan. Dan Malaikat Rahmah akan mengasihani siapapun tanpa berlebihan. Mereka telah mengetahui tugasnya masing-masing dan tidak akan memberatkan atau meringankan, melainkan sesuai dengan apa yang sudah ditentukan.

Sadarkanlah dirimu, wahai manusia.. jangan sampai terlambat.. ingat waktunya akan tiba..

Tuesday, October 28, 2008

Tanpa Judul

oleh : FK Yuwono


Nur itu….
Membias indah berkilau ….
Kilauannya….
Sejuk sumringahkan ……
Momen-momen yang slalu membuatku terpukau
Pernak-pernik kesatuan warna ketiadaan

Fikir tiada …
Inginpun tiada…
Kala pertemuan itu
Kala penyatuan itu
Alam tak berbatas
Penjuru tak berarah
Bunga, sinaran, menjadi tak berwarna
Rasa syukur penuhi diri
Ilahi Rabbi liputi diri
Aku menghilang .....

CintaNya telah hanguskan cintaku



Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 License

Sunday, October 5, 2008

Ied Mubarak 1429H


Jadilah Cahaya yang senantiasa menyinari siapapun tanpa pilih kasih,
Jadilah Air yang senantiasa mengalir memberi kesejukan dengan penuh cinta dan sayang

Perkenankanlah Saya Menghaturkan :

Selamat Hari Raya Iedul Fitri
1 Syawal 1429H
Mohon Maaf Lahir & Batin

Kepada Para Sahabat, Sobat Seperjalanan, dan Teman-teman di belahan dunia manapun saat ini berada, juga Rekan-rekan Pembaca Blog ini


Semoga berkat Ramadhan senantiasa meliputi kita, aamin..





Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 License

Thursday, August 28, 2008

Jelang Ramadhan

oleh FK Djuwono



Teruntuk seorang sahabat pejalan cahaya
Yang saat ini berada nun jauh di sana
Semoga Tuhan senantiasa Memberkatimu
Keimanan dan kekekalan cintaNya dalam dirimu

Jikalau esok Ramadhan mu yg terakhir
Sejatinya kalbu dirimu menyambutnya gembira
Gembira kan segera bertemu denganNya
Sang Kekasih diri Sang Maha Cinta

Kala kabar itu sampai padamu
Sambutlah dengan lapang dada
Betapa beruntungnya diri diberitahuNya
Ramadhan esok adalah yg terakhir bagimu

Penantian yang sekian lama di bumi
Dalam penjara tanah jasad bernafsu
Menghijab diri dari Sang Kekasih diri
Memenjarakan ruhani diri dalam kesepian
Kan segera berakhir di penghujung lebaran
Lebaran yang menjadi momentum kemenangan
Kemenangan ruhani atas jasad diri
Meluruhkan nafsu diri, memurnikan insani

Sambutlah hari akhirmu dengan senyuman
Rentangkan tanganmu menyambut pelukan
Pelukan Sang Kekasih Terkasih Maha Cinta
Abadilah engkau bersamaNya di keabadian Cinta




Dear Sister, may U have a nice Ramadhan ..
May Allah SWT Strengthen our light bindings &
Bless us with Strong Divine Loves
aamin.....




Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 License

Sunday, August 24, 2008




Marhaban Ya Ramadhan
01 Ramadhan 1429 H / 01 September 2008 M


Perkenankanlah Saya Menghaturkan :

Mohon Maaf Lahir & Batin

Kepada Para Sahabat, Sobat Seperjalanan, dan Teman-teman di belahan dunia manapun saat ini berada, juga Rekan-rekan Pembaca Blog ini


Semoga Allah SWT Memberkati Kita Kesempurnaan Ibadah Lahir Batin kepadaNya selama Ramadhan,
serta
Membimbing Kita Menuju Kesempurnaan Makrifat dan Keselarasan Lahir Batin di dalam Kebenaran,
aamin..





Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 License

Risalah Al Ghautsiyyah

Syekh Abdul Qadir Al Jailani


Sebagai bekal persiapan Ramadhan terutama untuk Sobat-sobat Pejalan Cahaya di belahan dunia manapun berada kini, yg selalu setia mendampingi diri, bersama dalam menapaki tangga ruhani, lahir dan batin. Semoga Allah SWT Senantiasa Memperkuat lingkaran cahayaNya dalam diri kita & ukhuwah bashariah kita, aamin ...


Risalah Al Ghautsiyyah adalah sebentuk dialog batiniah antara Allah SWT dan Syekh Abdul Qadir Al Jailani, yang diterima melalui ilham qalbi dan penyingkapan ruhani [kasyf ma’nawi].

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Segala puji bagi Allah, Sang Penghapus Duka. Shalawat atas manusia terbaik, Muhammad. Berkatalah sang penolong agung, yang terasing dari selain Allah dan amat intim dengan Allah.

Allah SWT Berkata : “Wahai penolong agung!”
Aku menjawab : “Aku mendengar panggilan-Mu, Wahai Tuhannya si penolong.”

Dia Berkata : “Setiap tahapan antara alam Naasut dan alam Malakut adalah syariat; setiap tahapan antara alam Malakut dan Jabarut adalah tarekat; dan setiap tahapan antara alam Jabarut dan alam Lahut adalah hakikat.”
1

Lalu Dia berkata kepadaku : “Wahai penolong agung ! Aku tidak pernah mewujudkan Diri-Ku dalam sesuatu sebagaimana perwujudanKu dalam diri manusia.”

Lalu aku bertanya : “Wahai Tuhanku, apakah Engkau memiliki tempat ?”, Maka Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, Akulah Pencipta tempat, dan Aku tidak memiliki tempat.”

Lalu aku bertanya : “Wahai Tuhanku, apakah Engkau makan dan minum ?”, Maka Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, makanan dan minuman kaum fakir adalah makanan dan minuman-Ku.”
2

Lalu aku berkata : “Wahai Tuhanku, dari apa Engkau ciptakan malaikat ?”. Dia Berkata kepadaku : “Aku Ciptakan malaikat dari cahaya manusia, dan Aku Ciptakan manusia dari cahaya-Ku.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, Aku Jadikan manusia sebagai kendaraan-Ku, dan Aku jadikan seluruh isi alam sebagai kendaraan baginya.”3

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, betapa indahnya Aku sebagai Pencari ! Betapa indahnya manusia sebagai yang dicari ! Betapa indahnya manusia sebagai pengendara, dan betapa indahnya alam sebagai kendaraan baginya.”4

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, manusia adalah rahasia-Ku dan Aku adalah Rahasianya. Jika manusia menyadari kedudukannya di sisi-Ku, maka ia akan berucap pada setiap hembusan nafasnya, ‘milik siapakah kekuasaan pada hari ini ?’.”5

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, tidaklah manusia makan sesuatu, atau minum sesuatu, dan tidaklah ia berdiri atau duduk, berbicara atau diam, tidak pula ia melakukan suatu perbuatan, menuju sesuatu atau menjauhi sesuatu, kecuali Aku Ada [Berperan] di situ, Bersemayam dalam dirinya dan Menggerakkannya.”
6

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, tubuh manusia, jiwanya, hatinya, ruhnya, pendengarannya, penglihatannya, tangannya, kakinya, dan lidahnya, semua itu Aku Persembahkan kepadanya oleh Diri-Ku, untuk Diri-Ku. Dia tak lain adalah Aku, dan Aku Bukanlah selain dia.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, jika engkau melihat seseorang terbakai oleh api kefakiran dan hancur karena banyaknya kebutuhan, maka dekatilah ia, karena tidak ada penghalang antara Diri-Ku dan dirinya.”7

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, janganlah engkau makan sesuatu atau minum sesuatu dan janganlah engkau tidur, kecuali dengan kehadiran hati yang sadar dan mata yang awas.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, barangsiapa terhalang dari perjalanan-Ku di dalam batin, maka ia akan diuji dengan perjalanan lahir, dan ia tidak akan semakin dekat dari-Ku melainkan justru semakin menjauh dalam perjalanan batin.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, kemanunggalan ruhani merupakan keadaan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Siapa yang percaya dengannya sebelum mengalaminya sendiri, maka ia telah kafir. Dan barang siapa menginginkan ibadah setelah mencapai keadaan wushul, maka ia telah menyekutukan Allah SWT.”
8

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, barangsiapa memperoleh kebahagiaan azali, maka selamat atasnya, dia tidak akan terhina selamanya. Dan barang siapa memperoleh kesengsaraan azali, maka celaka baginya, dia tidak akan diterima sama sekali setelah itu.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, Aku Jadikan kefakiran dan kebutuhan sebagai kendaraan manusia. Barangsiapa menaikinya, maka ia telah sampai di tempatnya sebelum menyeberangi gurun dan lembah.”9

Lalu Dia Berkatak kepadaku : “Wahai penolong agung, bila manusia mengetahui apa yang terjadi setelah kematian, tentu ia tidak menginginkan hidup di dunia ini. Dan ia akan berkata di setiap saat dan kesempatan, ‘Tuhan, matikan aku !’.”
10

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, semua makhluk pada hari kiamat akan dihadapkan kepadaKu dalam keadaan tuli, bisu dan buta, lalu merasa rugi dan menangis. Demikian pula di dalam kubur.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, cinta merupakan tirai yang membatasi antara sang pencinta dan yang dicintai. Bila sang pencinta telah padam dari cintanya, berarti ia telah sampai kepada Sang Kekasih.”
11

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, Aku Melihat Ruh-ruh menunggu di dalam jasad-jasad mereka setelah ucapanNya, ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu ?’ sampai hari kiamat.”

Lalu sang penolong berkata : “Aku melihat Tuhan Yang Maha Agung dan Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, barangsiapa bertanya kepadaKu tentang melihat setelah mengetahui, berrti ia terhalang dari pengetahuan tentang melihat. Barangsiapa mengira bahwa melihat tidak sama dengan mengetahui, maka berarti ia telah terperdaya oleh melihat Allah SWT.’”12

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, orang fakir dalam pandangan-Ku bukanlah orang yang tidak memiliki apa-apa, melainkan orang fakir adalah ia yang memegang kendali atas segala sesuatu. Bila ia berkata kepada sesuatu, ‘jadilah !’ maka terjadilah ia.”
13

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Tak ada persahabatan dan kenikmatan di dalam surga setelah kemunculan-Ku di sana, dan tak ada kesendirian dan kebakaran di dalam neraka setelah sapaan-Ku kepada para penghuninya.”
14

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, Aku Yang Paling Mulia di antara semua yang mulia, dan Aku Yang Paling Penyayang di antara semua penyayang.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, tidurlah di sisi-Ku tidak seperti tidurnya orang-orang awam, maka engkau akan melihatKu.” Terhadap hal ini aku bertanya : “Wahai Tuhanku, bagaimana aku tidur disisi-Mu ?”. Dia Berkata : “Dengan menjauhkan jasmani dari kesenangan, menjauhkan nafsu dari syahwat, menjauhkan hati dari pikiran dan perasaan buruk, dan menjauhkan ruh dari pandangan yang melalaikan, lalu meleburkan dzatmu di dalam Dzat.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, katakan kepada sahabatmu dan pencintamu, siapa di antara kalian yang menginginkan kedekatan dengan-Ku, maka hendaklah ia memilih kefakiran, lalu kefakiran dari kefakiran. Bila kefakiran itu telah sempurna, maka tak ada lagi apapun selain Aku.”
15

Lalu Dia Berkata : “Wahai penolong agung, berbahagialah jika engkau mengasihi makhluk-makhluk-Ku, dan beruntunglah jika engkau memaaafkan makhluk-makhluk-Ku.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, katakan kepada pencintamu dan sahabatmu, ambillah manfaat dari do’a kaum fakir, karena mereka bersama-Ku dan Aku Bersama mereka.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, Aku Bersama segala sesuatu, Tempat Tinggalnya, Pengawasnya, dan kepada-Ku tempat kembalinya.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, jangan peduli pada surga dan apa yang ada di sana, maka engkau akan melihat Aku tanpa perantara. Dan jangan peduli pada neraka serta apa yang ada di sana, maka engkau akan melihat Aku tanpa perantara.”
16

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, para penghuni surga disibukkan oleh surga, dan para penghuni neraka disibukkan oleh-Ku.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, sebagian penghuni surga berlindung dari kenikmatan, sebagaimana penghuni neraka berlindung dari jilatan api.”17

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, barangsiapa disibukkan dengan selain Aku, maka temannya adalah sabuk [tanda kekafiran] pada hari kiamat.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, orang-orang yang dekat mencari pertolongan dari kedekatan, sebagaimana orang-orang yang jauh mencari pertolongan dari kejauhan.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, sesungguhnya Aku Memiliki hamba-hamba yang bukan nabi maupun rasul, yang kedudukan mereka tidak diketahui oleh siapapun dari penghuni dunia maupun penghuni akhirat, dari penghuni surga ataupun neraka, tidak juga malaikat Malik ataupun Ridwan, dan Aku Tidak Menjadikan mereka untuk surga maupun untuk neraka, tidak untuk pahala ataupun siksa, tidak untuk bidadari, istana maupun pelayan-pelayan mudanya. Maka beruntunglah orang yang mempercayai mereka meski belum mengenal mereka.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, engkau adalah salah satu dari mereka. Dan di antara tanda-tanda mereka di dunia adalah tubuh-tubuh mereka terbakar karena sedikitnya makan dan minum; nafsu mereka telah hangus dari syahwat, hati mereka telah hangus dari pikiran dan perasaan buruk, ruh-ruh mereka juga telah hangus dari pandangan yang melalaikan. Mereka adalah pemilik keabadian yang terbakar oleh cahaya perjumpaan [dengan Tuhan].”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, bila seseorang yang haus datang kepadamu di hari yang amat panas, sedangkan engkau memiliki air dingin dan engkau sedang tidak membutuhkan air, jika engkau menahan air itu baginya, maka engkau adalah orang yang paling kikir. Bagaimana Aku Menolak mereka dari rahmat-Ku padahal Aku Telah Menetapkan atas Diri-Ku, bahwa Aku Paling Pengasih di antara yang mengasihi.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, tak seorang pun dari ahli maksiat yang jauh dari-Ku, dan tak seorangpun dari ahli ketaatan yang dekat dari-Ku.”18

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, bila seseorang dekat kepada-Ku, maka ia adalah dari kalangan maksiat, karena ia merasa memiliki kekurangan dan penyesalan.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, merasa memiliki kekurangan merupakan sumber cahaya, dan mengagumi cahaya diri sendiri merupakan sumber kegelapan.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, ahli maksiat akan tertutupi oleh kemaksiatannya, dan ahli taat akan tertutupi oleh ketaatannya. Dan Aku Memiliki hamba-hamba selain mereka, yang tidak ditimpa kesedihan maksiat dan keresahan ketaatan.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, sampaikan kabar gembira kepada para pendosa tentang adanya keutamaan dan kemurahan, dan sampaikan berita kepada para pengagum diri sendiri tentang adanya keadilan dan pembalasan.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, ahli ketaatan selalu mengingat kenikmatan, dan ahli maksiat selalu mengingat Yang Maha Pengasih.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, Aku Dekat dengan pelaku maksiat setelah ia berhenti dari kemaksiatannya, dan Aku Jauh dari orang yang taat setelah ia berhenti dari ketaatannya.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, Aku Menciptakan orang awam namun mereka tidak mampu memandang cahaya kebesaran-Ku, maka Aku Meletakkan tirai kegelapan di antara Diri-Ku dan mereka. Dan Aku Menciptakan orang-orang khusus namun mereka tidak mampu mendekati-Ku dan mereka sebagai tirai penghalang.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, katakan kepada para sahabatmu, siapa di antara mereka yang ingin sampai kepada-Ku, maka ia harus keluar dari segala sesuatu selain Aku.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, keluarlah dari batas dunia, maka engkau akan sampai ke akhirat. Dan keluarlah dari batas akhirat, maka engkau akan sampai kepada-Ku.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, keluarlah engkau dari raga dan jiwamu, lalu keluarlah dari hati dan ruhmu, lalu keluarlah dari hukum dan perintah, maka engkau akan sampai kepada-Ku.”

Maka aku bertanya : “Wahai Tuhanku, shalat sepert apa yang paling dekat dengan-Mu ?.” Dia Berkata : “Shalat yang di dalamnya tiada apapun kecuali Aku, dan orang yang melakukannya lenyap dari shalatnya dan tenggelam karenanya.”
19

Lalu aku berkata : “Wahai Tuhanku, puasa seperti apa yang paling utama di sisi-Mu ?.” Dia Berkata : “Puasa yang di dalamnya tiada apa pun selain Aku, dan orang yang melakukannya lenyap darinya."

Lalu aku berkata : “Wahai Tuhanku, amal apa yang paling utama di sisi-Mu ?.” Dia Berkata : “Amal yang di dalamnya tiada apa pun selain Aku, baik itu [harapan] surga ataupun [ketakutan] neraka, dan pelakunya lenyap darinya."

Lalu aku berkata : “Wahai Tuhanku, tangisan seperti apa yang paling utama di sisi-Mu ?.” Dia Berkata : “Tangisan orang-orang yang tertawa." Lalu aku berkata : “Wahai Tuhanku, tertawa seperti apa yang paling utama di sisi-Mu ?.” Dia Berkata : “Tertawanya orang-orang yang menangis karena bertobat.” Lalu aku berkata : “Wahai Tuhanku, tobat seperti apa yang paling utama di sisi-Mu ?.” Dia Menjawab : “Tobatnya orang-orang yang suci.” Lalu aku bertanya : “Wahai Tuhanku, kesucian seperti apa yang paling utama di sisi-Mu ?.” Dia Menjawab : “Kesucian orang-orang yang bertobat.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, pencari ilmu di mata-Ku tidak mempunyai jalan kecuali setelah ia mengakui kebodohannya, karena jika ia tidak melepaskan ilmu yang ada padanya, ia akan menjadi setan.”
20

Berkatalah sang penolong agung : “Aku bertemu Tuhanku SWT dan aku bertanya kepada-Nya, ‘Wahai Tuhan, apa makna kerinduan [‘isyq] ?’, Dia Menjawab : ‘Wahai penolong agung, [artinya] engkau mesti merindukan-Ku dan mengosongkan hatimu dari selain Aku.’” Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, jika engkau mengerti bentuk kerinduan maka engkau harus lenyap dari kerinduan, karena ia merupakan penghalang antara si perindu dan yang dirindukan.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, bila engkau berniat melakukan tobat, maka pertama kali engkau harus bertobat dari nafsu, lalu mengeluarkan pikiran dan perasaan buruk dari hati dengan mengusir kegelisahan dosa, maka engkau akan sampai kepada-Ku. Dan hendaknya engkau bersabar, karena bila tidak bersabar berarti engkau hanya bermain-main belaka.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, bila engkau ingin memasuki wilayah-Ku, maka hendaknya engkau tidak berpaling kepada alam mulk, alam malakut, maupun alam jabarut. Karena alam mulk adalah setannya orang berilmu, dan malakut adalah setannya ahli makrifat, dan jabarut adalah setannya orang yang sadar. Siapa yang puas dengan salah satu dari ketiganya, maka ia akan terusir dari sisi-Ku.”

Dan Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, perjuangan spiritual [mujahadah] adalah salah satu lautan di samudera penyaksian [musyahadah] dan tela dipilih oleh orang-orang yang sadar. Barangsiapa hendak masuk ke samudera musyahadah, maka ia harus memilih mujahadah, karena mujahadah merupakan benih dari musyahadah dan musyahadah tanpa mujahadah adalah mustahil. Barangsiapa telah memilih mujahadah, maka ia akan mengalami musyahadah, dikehendaki atau tidak dikehendaki.”
21

Dan Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, para pencari jalan spiritual tidak dapat berjalan tanpa mujahadah, sebagaimana mereka tak dapat melakukannya tanpa Aku.”

Dan Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, sesungguhnya hamba yang paling Ku Cintai adalah hamba yang mempunyai ayah dan anak tetapi hatinya kosong dari keduanya. Jika ayahnya meninggal, ia tidak sedih karenanya, dan jika anaknya pun meninggal, ia pun tidak gundah karenanya. Jika seorang hamba telah mencapai tingkat seperti ini, maka di sisi-Ku tanpa ayah dan tanpa anak, dan tak ada bandingan baginya.”
22

Dan Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, siapa yang tidak merasakan lenyapnya seorang ayah karena kecintaan kepada-Ku dan lenyapnya seorang anak karena kecintaan kepada-Ku, maka ia tak akan merasakan lezatnya Kesendirian dan Ketunggalan.”

Dia juga Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, bila engkau ingin memandang-Ku di setiap tempat, maka engkau harus memilih hati resah yang kosong dari selain Aku.” Lalu aku bertanya : “Tuhanku, apa ilmunya ilmu itu ?.” Dia Menjawab : “Ilmunya ilmu adalah ketidaktahuan akan ilmu.”

Dan Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, berbahagialah seorang hamba yang hatinya condong kepada mujahadah, dan celakalah bagi hamba yang hatinya condong kepada syahwat.”

Lalu aku bertanya kepada Tuhanku SWT tentang mi’raj. Dia Berkata : “Mi’raj adalah naik meninggalkan segala sesuatu kecuali Aku, dan kesempurnaan mi’raj adalah pandangan tidak berpaling dan tidak pula melampauinya [ QS 53 : 17].” Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, tidak ada shalat bagi orang yang tidak melakukan mi’raj kepada-Ku.”
23

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, orang yang kehilangan shalatnya adalah orang yang tidak mi’raj kepada-Ku.”


Keterangan :
1. Alam Naasut adalah alam manusia, di dalamnya yang tampak adalah urusan-urusan kemanusiaan yang lembut dan bersifat ruhaniah. Alam Malakut adalah alam dimana para malaikat berkiprah melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh Allah SWT. Alam Jabarut adalah alam gaib tempat urusan-urusan ilahiah yang menunjukkan hakikat daya paksa, kekerasan, kecepatan tindak pembalasan, dan ketidakbutuhan kepada segala sesuatu. Alam Lahut adalah alam gaib yang di dalamnya hanya tampak urusan-urusan ilahiah murni.

2. Yang dimaksud fakir disini bukanlah orang yang membutuhkan harta benda, melainkan orang yang merasa butuh kepada Allah SWT.

3. Kendaraan di sini berarti sarana untuk menyampaikan seseorang kepada tujuan. Untuk tujuan tertentu, Allah SWT memanfaatkan manusia sebagai saranaNya, sementara manusia memanfaatkan alam sebagai sarana untuk mencapai tujuannya.

4. Allah SWT sebagai pencari sarana, memilih manusia – makhluk yang paling mulia – sebagai kendaraanNya. Betapa Agungnya Dia dan betapa terhormatnya manusia yang telah dipilihNya. Dan merupakan keagungan pula bagi alam karena telah dijadikan oleh manusia sebagai kendaraan yang membawanya kepada tujuannya.

5. Jika manusia mengetahui secara hakiki betapa tinggi kedudukannya dan betapa dekat ia dengan Allah SWT, maka ia akan merasa bahwa suatu saat nanti – karena kedekatan itu – Allah akan memberikan kekuasaanNya kepadanya. Karena itulah ia akan senantiasa menanti, kapan saat penyerahan itu tiba, dengan kalimat : “Milik siapakah kekuasaan pada hari ini ?.”

6. Allah SWT selalu berperan dalam setiap gerak dan diamnya manusia.

7. Orang yang telah menyadari kefakiran dan kebutuhannya di hadapan Allah SWT, berarti ia telah memahami posisi dirinya terhadap Tuhannya. Sehingga tiada lagi penghalang antara dirinya dan Allah SWT.

8. Penyatuan ruhani antara makhluk dan Khaliq tidak akan dapat diungkapkan dengan kata-kata. Jika seseorang belum mengalaminya sendiri, maka ia akan cenderung mengingkarinya. Dan orang yang mengaku telah mengalaminya padahal belum, maka ia telah kafir. Orang yang telah mencapai keadaan ini, tiada yang ia inginkan selain perjumpaan dengan Allah. Jika ia menginginkan hal lain, meski itu berupa ibadah sekalipun, dalam maqam ini, ia dianggap telah menyekutukan Allah dengan keinginannya yang lain.

9. Kefakiran dan kebutuhan merupakan sarana yang membawa manusia kepada kesadaran akan jati dirinya dan kebesaran Allah SWT. Orang yang telah sampai pada kesadaran semacam ini berarti telah sampai pada posisinya yang tepat tanpa harus menempuh perjalanan yang berliku-liku.

10. Kematian merupakan saat disingkapkannya hakikat segala sesuatu, dan perjumpaan dengan Tuhan adalah saat yang paling dinantikan oleh orang yang merindukanNya.

11. Cinta tiada lain kecuali keinginan sang pencinta untuk berjumpa dan bersatu dengan yang dicintai. Bila keduanya telah bertemu, maka cinta itu sendiri akan lenyap, dan keberadaan cinta itu justru akan menjadi penghalang antara keduanya.

12. Yang dimaksud mengetahui adalah melihat dengan mata hati. Jadi, di sini melihat sama dengan mengetahui.

13. Fakir dalam pandangan Allah SWT bukanlah orang yang tidak memiliki harta benda, melainkan orang yang merasa butuh kepada Allah SWT, dan tidak memiliki perhatian kepada apapun selain Allah SWT. Orang seperti ini, kehendaknya sama dengan kehendak Allah SWT, sehingga apa yang ia inginkan untuk terwujud akan terwujud.

14. Keinginan dan kenikmatan terbesar manusia di alam akhirat itu hanyalah perjumpaan dengan Allah SWT. Maka kenikmatan di dalam surga dan kesengsaraan di dalam neraka tidak akan terasa jika dihadapkan pada kenikmatan perjumpaan dengan Allah SWT, meski itu hanya dalam bentuk sapaan belaka.

15. Kefakiran adalah suatu keadaan butuh. Jika seseorang tidak membutuhkan apa pun selain Allah, maka kefakirannya telah sempurna. Baginya, Yang Wujud hanyalah Allah SWT, tak ada selainNya.

16. Ini seperti ungkapan Rabi’ah Al Andawiyah : “Aku menyembah Allah bukan karena mengharap surga atau takut akan neraka, melainkan karena Dia memang layak untuk disembah dan karena aku mencintai-Nya.”

17. Penghuni surga berlindung dari kenikmatan agar mereka tidak terlena sehingga lupa akan kenikmatan yang paling besar, yakni perjumpaan dengan Allah SWT.

18. Maksudnya, walaupun seseorang termasuk ahli maksiat, Allah tetap dekat dengannya sehingga jika ia mau bertobat, Allah pasti menerimanya. Dan janganlah seorang yang taat menyombongkan diri atas ketaatannya, karena dengan begitu ia justru akan semakin jauh dari Allah. Memiliki perasaan kekurangan dan penyesalan itulah yang menyebabkan seseorang dekat kepada Allah.

19. Lenyap dari shalat bermakna bahwa niat dan perhatian si pelaku shalat hanya tertuju kepada Allah SWT. Fokusnya bukan lagi penampilan fisik maupun gerakan-gerakan, melainkan kepada makna batiniah shalat itu.
20. Ilmu yang sesungguhnya adalah yang ada di sisi Allah SWT, sementara ilmu yang kita miliki hanyalah semu dan palsu. Selama manusia tidak melepas kepalsuan itu, ia tidak akan menemukan ilmu sejati. Ilmu sejati tidak akan berlawanan dengan perbuatan. Setan adalah contoh pemilik ilmu yang perbuatannya berlawanan dengan ilmu yang dimilikinya.

21. Mujahadah adalah perjuangan spiritual dengan cara menekan keinginan-keinginan jasmani, nafsu, dan jiwa, agar tunduk di bawah kendali ruh kita. Musyahadah adalah penyaksian akan kebesaran dan keagungan Allah SWT melalui tanda-tanda keagungan-Nya di alam ini.

22. Kecintaan seseorang kepada anak atau orang tua semestinya tidak melebihi kecintaannya kepada Allah SWT. Ia harus menyadari bahwa orang tua maupun anak adalah anugerah Allah SWT yang bersifat sementara, dan cepat atau lambat ia akan berpisah dengan mereka. Maka seharusnya perpisahan itu tidak membuatnya gundah dan gelisah mengingat hal itu terjadi karena kehendak Allah SWT [ QS 80 : 34-37]

23. Dalam sebuah hadist, Nabi SAW berkata : “Shalat adalah mi’raj kaum mukmin.” Mi’raj berarti naiknya ruh menghadap Allah SWT meski jasad kita tetap berada di alam ini. Jika shalat seseorang belum membawanya kepada keadaan seperti ini, berarti ia belum melakukan shalat dengan sempurna.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 License

Monday, July 28, 2008

Tentang Berbuat Kebaikan



Allah SWT Berfirman :

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri...”

[ QS Al-Isra : 7 ]


Orang yang berbuat jahat,
walaupun bencana belum tiba,
tetapi rejeki telah menjauhinya,


Orang yang berbuat baik,
walaupun rejeki belum tiba,
tetapi bencana telah menjauhinya,


Kebaikan akan mendatangkan balasan kebaikan yang setimpal

[Pepatah Cina Klasik ]


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 License

Sunday, July 13, 2008

Benar [Ash Shidqu]


Firman Allah SWT :
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar [Shidqin].” [QS At Taubah : 119]

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud r.a. “Rasulullah SAW bersabda, seorang hamba akan senantiasa menjadi orang-orang yang benar dan mencari kebenaran sampai akhirnya dia telah menjadi orang benar di sisi Allah SWT. Seorang hamba akan terus berdusta dan mengejar kedustaan sampai akhirnya dia menjadi pendusta di sisi Allah SWT.”Disebutkan pula bahwa sesungguhnya Allah SWT berfirman kepada Nabi Daud a.s. “Wahai Daud, barang siapa yang membenarkan Aku dalam batinnya, Aku Membenarkannya di tengah-tengah makhluk sesamanya secara terang-terangan.”

Ketahuilah bahwa sesungguhnya kebenaran itu adalah tiang bagi suatu urusan. Dengan kebenaran itulah, sebuah urusan akan mencapai kesempurnaan dan dalam kebenaran pulalah terdapat sistem dari urusan itu. Kebenaran adalah derajat kedua dari kenabian yaitu sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah SWT sbb :
“... maka mereka bersama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah atas mereka dari para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang yang shaleh ...” [QS An Nisaa : 69]

“Benar” [Ash Shidqu] adalah seimbangnya antara batin dan lahiriah sehingga “orang yang benar” [Ash Shadqu] adalah benar dalam perkataannya, dan Shiddiq adalah orang yang benar dalam perkataannya, da dalam segala perbuatannya, serta benar dalam segala kondisinya.

Dikatakan pula bahwa barang siapa yang ingin agar Allah SWT senantiasa bersamanya, hendaklah dia konsisten dalam kebenaran, karena sesungguhnya Allah SWT bersama orang-orang yang benar.

Al Junadi r.a. berkata, “Orang yang benar akan berubah sebanyak empat puluh kali dalam sehari, dan orang-orang yang bersifat riya akan statis [tidak bergerak] dalam satu kondisi selama empat puluh tahun.:

Dikatakan pula bahwa “Benar” [Ash Shidqu] adalah mengatakan kebenaran dalam kehancuran. Disebutkan pula bahwa “Benar” [Ash Shidqu] adalah mengimplementasikan apa yang ada dalam batin dengan lisan. Disebutkan pula bahwa “Benar” [Ash Shidqu] adalah menjauhkan hal-hal yang haram dari sudut mulut perkataan. Disebutkan pula bahwa “Benar” [Ash Shidqu] adalah mematuhi Allah SWT dengan perbuatan.

Abu Said Al Qurasyi r.a. berkata, “Orang yang benar [Ash Shidqu] adalah orang yang bersiap untuk mati.”

“... maka inginkanlah kematian jika kamu orang-orang yang benar.” [QS Al Baqarah : 94]

“Benar” adalah benarnya ketauhidan yang disertai dengan niat. Hakikat dari “benar” adalah engkau mengatakan kebenaran dalam satu daerah yang tidak ada yang menyelamatkanmu, melainkan kebohongan.

Ada tiga hal yang tidak dapat menyalahkan orang-orang yang benar [Ash Shadqi], yaitu keindahan, wibawa dan kehormatan. Dzu Nun Al Mishri r.a. berkata, “Benar adalah pedang Allah SWT yang tidak diletakkan di atas sesuatu, melainkan pedang itu pasti memotongnya.”

Sahal bin Abdullah r.a. berkata, “Kesalahan pertama yang dilakukan oleh orang-orang yang benar [Ash Shadqu] adalah membicarakan diri mereka sendiri.”
Ketika Fath Al Mushii r.a. ditanya tentang “benar” [Ash Shidqu], dia memasukkan tangannya ke dalam tungku tukang besi dan mengeluarkan besi yang masih membara. Lalu besi yang masih membara itu diletakkan di atas telapak tangannya sampai akhirnya besi itu menjadi dingin. Dia pun berkata, “Inilah kebenaran.”

Harits Al Muhasabi pernah ditanya tentang tanda-tanda “benar” [Ash Shiqu] dan dia berkata, “Orang yang benar [Ash Shadqi] adalah orang yang tidak peduli atas segala pembicaraan orang lain demi kemashalatan hatinya. Orang yang benar adalah orang yang tidak suka membicarakan orang lain sedikitpun karena amal baiknya. Dan orang yang baik adalah orang yang benci apabila orang lain melihat kekurangan dalam amal perbuatannya karena kebenciannya itu justru akan menjadi bukti bahwa sesungguhnya dia masih senang dengan penghargaan di tengah-tengah manusia. Hal ini bukanlah sifat orang-orang yang benar.”

Barang siapa yang tidak mengerjakan fardhu kontinyu, tidak akan diterima fardhu yang bersifat sementara. Apakah fardhu kontinyu itu ?. Ia adalah Ash-Shidqu [Benar].

Apabila engkau mencari Allah SWT dengan benar, DIA Akan Memberikan kepadamu sebuah cermin, dimana engkau akan menyaksikan segala keajaiban dunia dan akhirat dalam cermin itu.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 License

IKHLAS


Mengenai keikhlasan, Allah SWT Berfirman :

“Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepadaNya dalam [menjalankan] agama...” [QS Al Bayyinah : 5]

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih [dari syirik]” [QS Az Zumar : 3]

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai [keridhaan] Allah, tetapi ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya ...” [QS Al Hajj : 37]

“... bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu, dan hanya kepadaNya kami mengikhlaskan hati ...” [QS Al Baqarah : 139]

Para ulama berbeda pendapat mengenai makna “ikhlas”.

Hasan r.a. berkata “aku pernah bertanya kepada Huzaifah r.a. tentang keikhlasan. Dia berkata, “aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang keikhlasan. Rasulullah SAW bersabda, “aku pernah bertanya kepada Tuhan Yang Maha Mulia lagi Maha Agung tentang keikhlasan. Allah SWT Berfirman, “Keikhlasan adalah salah satu rahasia di antara rahasia-rahasia Ku, yang dititipkan ke dalam hati hamba-hambaKu yang Aku Cintai.”

Dari Abi Idris Al Khaulani r.a., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda, sesungguhnya segala sesuatu yang benar memiliki hakikat, dan seorang hamba tidak akan mengetahui hakikat ikhlas sampai dia menyukai untuk tidak memuji atas suatu pekerjaan yang dia kerjakan untuk Allah SWT.”

Said bin Jabir r.a. berkata, “Ikhlas adalah seorang hamba memurnikan agamanya semata-mata untuk Allah SWT, memurnikan pekerjaannya juga semata-mata karena Allah SWT, tidak mempersekutukanNya di dalam agamaNya, dan tidak memperlihatkan pekerjaannya kepada siapapun.”

Al Fudhail r.a berkata, “Memperlihatkan pekerjaan kepada orang lain termasuk riya dan berbuat karena seseorang adalah kemusyrikan, sedangkan ikhlas adalah engkau takut Allah SWT akan menyiksamu dari kedua perbuatan tersebut.”

Yahya bin Mu’az r.a. berkata, “Ikhlas adalah menjauhkan perbuatan dari segala kekurangan, seperti terpisahnya susu dari kotoran dan darah.”

Abu Al Husein Al Busyanji r.a. berkata, “Ikhlas adalah perbuatan yang tidak dicatat oleh kedua malaikat [Raqib dan Atid], tidak dirusak oleh setan, dan tidak pula terlihat oleh manusia.”

Ruwaim r.a. berkata, “Ikhlas adalah hilangnya pandanganmu dari perbuatan[mu].” Disebutkan pula bahwa “Ikhlas” adalah sesuatu yang menjadi akhir dari kebenaran dan yang menjadi tujuan dari kebenaran. Ada pula yang mengatakan bahwa “Ikhlas” adalah sesuatu yang tidak disamarkan oleh dosa, dan tidak pula diringankan dengan pentakwilan [penafsiran]. Dikatakan pula bahwa “Ikhlas” adalah segala sesuatu yang tersembunyi dari makhluk dan lepas dari segala bentuk kecintaan.

Huzaifah Al Mur’isyi berkata, “Ikhlas adalah seimbangnya perbuatan seorang hamba, baik yang tampak maupun yang tidak.” Sementara Yaqub Al Makfuf berkata, “Ikhlas adalah seorang hamba menyembunyikan kebaikannya sebagaimana dia menyembunyikan keburukannya.”

Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a., ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ada tiga hal yang tidak dapat menipu hati seorang mukmin, yaitu perbuatan yang ikhlas kepada Allah, nasihat kepada penguasa, dan keharusan berkumpul dengan kaum muslimin.”

Disebutkan pula bahwa makna “Ikhlas” adalah menfokuskan keta’atan dan tujuan kepada Allah SWT, yaitu kehendak seorang hamba dengan menaatiNya agar dia dekat dengan Tuhannya di antara segenap ciptaanNya. Perbuatannya itu tidak ditujukan untuk manusia, tidak pula mengharapkan pujian, tidak pula mengharap simpati, dan tidak pula dibarengi celaan dari dirinya.

Dzu An Nun Al Mishri r.a. berkata, “Ikhlas adalah sesuatu yang tidak sempurna kecuali dengan kebenaran di dalam perbuatan itu, dengan disertai kesabaran pada saat melakukannya. Sementara kebenaran itu sendiri tidak akan sempurna, melainkan jika disertai keikhlasan di dalamnya dan dilakukan secara terus-menerus. Ada tiga ciri keikhlasan, yaitu hilangnya pujian dan celaan dari manusia [secara umum], melupakan untuk melihat amal-amal perbuatan, dan tidak mengharapkan pahala atas perbuatan[nya] di akhirat.”

Abu Utsman Al Maghribi r.a. berkata, “Ikhlas adalah sesuatu yang tidak menyisakan bagian bagi jiwa pada saat itu pula. Ini adalah ikhlas bagi orang-orang awam. Adapun ikhlas bagi orang-orang khusus [khawas] adalah segala sesuatu yang muncul atas mereka, namun tidak dengan [kesadaran] mereka sehingga keta’atan akan tampak dari mereka, sementara mereka sendiri berada dalam pengasingan [diri], dan penglihatan tidak akan tertuju kepada mereka sebagaimana sewajarnya. Itulah ikhlas bagi orang-orang khusus [khawas].”

Abu Bakar Ad Diqaqi r.a. berkata, “kekurangan setiap orang ikhlas di dalam keikhlasannya adalah melihat keikhlasannya. Apabila Allah SWT menghendaki untuk menghabiskan keikhlasannya maka dia akan jatuh dari keikhlasannya dengan melihat keikhlasannya. Akhirnya dia menjadi orang yang “habis”, bukan orang yang “ikhlas” [Mukhlish].”

Sahal r.a. berkata, “tidak ada yang mengetahui sifat riya kecuali orang yang ikhlas.”

Abu Utsman r.a. berkata, “Ikhlas adalah melupakan untuk melihat makhluk dengan menfokuskan pandangan kepada Sang Khalik.”

Ruwaim r.a. berkata, “Ikhlas dalam beramal adalah amal yang dikerjakan oleh seseorang tanpa mengharapkan pengganti [pahala] di dunia dan akhirat, dan tidak pula mengharapkan amalnya itu dicatat oleh kedua malaikat [Raqib dan Atid].”

Ibnu Abdillah r.a. pernah ditanya, “Apakah yang paling memberatkan jiwa ?.” Dia berkata, “Ikhlas. karena jiwa tidak mendapatkan bagian apapun darinya.” Disebutkan pula bahwa ikhlas adalah hendaknya tidak seorangpun yang menyaksikan perbuatan kamu, selain Allah SWT.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 License

Thursday, July 3, 2008

Qalbu

Syekh Abdul Karim Ibnu Ibrahim Al Jaili [1366M - 1430M]


Qalbu adalah Singgasana Allah
Pusat kendali diri setiap manusia
Landasan penampakkan Al Haq
Ranah hamparan kasih rahmatNya

Ia adalah cerminan hakikatNya
Mikroskop nilai keluhuranNya
Wadah penampung kalamNya
Jaring penangkap isyarat-isyaratNya

Ia dianalogikan dengan cahaya
Diurai dengan huruf-huruf Qur’ani
Ia laksana, minyak dan lampu
Dalam Misykat serta kaca menyala

Ia mudah terbalik dan pongah,
Qalbu yang ingat mulia, yang lalai nista,
Ia kadang bersinar, kadang gelap,
Ia menyinari jagad diri dan kehidupan,

Qalbu didatangi DutaNya untuk
Dipersiapkan menerima tugas ketuhanan
Qalb suci bermoral malaikatNya
Qalbu kotor berkarakteri setan terlaknat

Qalbu adalah penanda setiap insan
Adakah ia manusia baik atau buruk
Ia merupakan pundit rahasia batin
Samudera pengetahuan setiap manusia
Ia kunci pembuka keagunganNya
Pintu pembentang rahasia-rahasiaNya

Itulah wajah hakiki qalbumu yang sesungguhnya
Simpanlah rahasia batinmu, kau akan melihat rahasiaNya

Kebahagiaan dunia bisa diraih dengan jejak kaki
Kebahagiaan hakiki akhirat hanya bisa ditempuh dengan qalbu

Penyingkapan Agung dan tirai Makrifat terbuka oleh “laku“ qalbu
Rapor kebaikan dan keburukan setiap insani berdasar “laku“ qalbu

Manusia yang membiarkan kalbunya penuh noda hati
Selamanya tidak akan merasakan penyingkapan rahasia AgungNya

Qalbu adalah perbendaharaan agung
Modal utama setiap manusia menujuNya
Insan yang tidak memuliakan kalbunya
Akan menuai keburukan abadi di sisiNya

Qalbu adalah landasan pacu hakikat
Nilai hakiki tidak akan landing di qalbu yang kotor
Qalbu yang tidak suci berlumur hijab
Qalbu yang terhijab tidak akan Makrifatullah

Qalbu adalah media Wushul da Qurb
Keintiman denganNya juga dengan “laku“ qalbu
Hakikat kebaikan bersendikan qalbu
Kebaikan yang tidak bernurani, adalah busuk

Ilham suciNya turun di qalbu suci
Qalbu buruk adalah landasan bisikan jahat setan
Muara “laku“ qalbu adalah ridhaNya
KerelaanNya hanya berdasarkan “laku“ qalbu jernih
KemurkaanNya akibat “ulah“ qalbu
Siksa pedih akhirat juga akibat “ulah“ busuk qalbu

Qalbu adalah sentra penentu nasib
Kebahagiaan dan kesengsaraan hakiki akibat qalbu
Qalbu yang taat beroleh ridhaNya
Qalbu yang kufur, akan menuai kemurkaanNya
Qalbu yang pongah dan tersesat
Adalah qalbu yang lupa mendzikir padaNya
Wajah kebaikan qalbu adalah lurus
Wajah kesesatan qalbu, tindak kemaksiatannya

Tajamkan mata Qalbu dan pikir
Akan tersingkap keagungan rahasia ayat-ayatNya
Qalbu adalah pengantin jasad dan ruh
Hanya Qalbu Sakinah yang sambung dengan DiriNya

Lihatlah kepada “laku“ baik qalbumu
Itulah rahasia batinmu, dan modal utamamu menujuNya
Pandanglah kebaikan-kebaikanNya
Akan ditampakkan untukmu segala makna hakiki



Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 License

Monday, June 30, 2008

Prinsip Rasulullah SAW


Dalam suatu hadist shahih, Kanjeng Rasulullah SAW bersabda :

“Makrifat adalah modalku,
Akal pikiran sumber agamaku,
Cinta adalah dasar hidupku,
Rindu kendaraanku,
Berzikir kepada Allah SWT adalah kawan dekatku,
Keteguhan perbendaharaanku,
Duka adalah kawanku,
Ilmu adalah senjataku,
Ketabahan adalah pakaianku,
Kerelaan sasaranku,
Faqir adalah kebanggaanku,
Menahan diri adalah pekerjaanku,
Keyakinan makananku,
Kejujuran perantaraku,
Ketaatan adalah ukuranku,
Berjihad perangaiku, dan
Hiburanku adalah shalat.”



Sumber : Sejarah Perjalanan Hidup Nabi Muhammad SAW, Haekal, hal. 214.



Creative Commons License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 License

Monday, June 23, 2008

Shalat



Bagi kanjeng Rasulullah SAW, Shalat adalah Cahaya Mata [qurrata a’yun], sebagaimana sabda beliau :
“dosa-dosa manusia, saat dia melaksanakan shalat, akan jatuh berguguran laksana daun pohon yang berguguran. Shalat adalah cahaya mataku dan bagiku shalat adalah laksana makanan bagi orang lapar dan air bagi orang yang haus. Sekalipun orang yang lapar dan haus akan merasa kenyang, tetapi aku tidak pernah merasa kenyang [atas shalat].”

Beberapa ulama besar terdahulu memaknai shalat sebagaimana terurai singkat di bawah ini.

Syekh Muhammad Al Haritsi Al Makki dalam kitab Qut al Qulub fi Mu’amalah Al Mahbub wa Washf Thariq Al Murid ila Maqam Al Tauhid, bagi orang yang mengenal Allah SWT [‘Arif], setiap ucapan dalam shalatnya mengarah pada 10 tingkatan [maqam] dan penyaksian [musyahadah] kepada Allah SWT yaitu :(1) mengimani [Iman], (2) berserah diri [Islam], (3) bertobat [taubah], (4) bersabar [shabr], (5) ridha [ridha], (6) takut [khauf], (7) berharap [raja’], (8) bersyukur [syukr], (9) mencintai [mahabbah],(10) bertawakal kepadaNya [tawakkal].

Kesepuluh makna ini merupakan tingkatan-tingkatan keyakinan. Semua makna ini terkandung di dalam setiap kata yang dipersaksikan oleh orang yang akrab dan bermunajat kepadaNya serta diketahui oleh orang yang berilmu dan memahami arti kehidupan. Itu karena ucapan Kekasih dapat membangkitkan dan menggairahkan hati, yang hanya disadari oleh orang yang hidup, dan hanya dihidupkan oleh orang yang memenuhi seruan.

“Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Qur'an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan, supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir.” QS Yaasin : 69-70.
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu..” QS Al Anfal : 24.

Apabila seseorang khusyuk dalam shalatnya, hatinya akan menyaksikan bahwa dia sedang berdiri di hadapan Tuhan semesta alam pada hari yang setara dengan 5000 tahun di dunia. Lalu, dia merasakan kehadirannya di hadapan Tuhan Yang Maha Perkasa. Hal itu karena ia tidak termasuk orang-orang yang lalai. Hal gaibpun menjadi hadir baginya dan dia segera mengagungkan Tuhan Yang Maha Hadir. Dirinya disibukkan dengan mengagungkan Tuhan Yang Maha Dekat dan diliputi ketakutan kepada Tuhan Yang Maha Mengawasi.

Apabila seseorang yang shalatnya khusyuk ini berdoa, dia memandang Tuhan kepadaNya doa itu dipanjatkan, sehingga dia mulai memuliakan dan memujiNya dan lupa pada hajat duniawinya. Dia melupakan dirinya karena perhatiannya hanya tertuju pada Tuhannya, dan melupakan permohonannya karena berusaha untuk memujiNya dengan cara sebaik-baiknya.

Kanjeng Sunan Bonang dalam Suluk Wujil bait bait 12-13, memaknai shalat sebagai berikut :
Utamaning sarira puniki, Angawruhana jatining shalat, Sembah lawan pamujine, Jatining shalat iku, Dudu ngisa tuwin magerib, Sembahyang araneka, Wenange punika, Lamun arana shalat, Pun minangka kekembanging shalat dhaim, Ingaran tata karma
Endi ingaran sembah sejati, Aja nembah yen tan katingalan, Temahe kasor kulane, Yen sira nora weruh, Kang sinembah ing donya iki, Kadi anulup kaga, Punglune den sawur, Manuke mangsa kenaa, Awekasa amangeran adan sarpin, Sembahe sia-sia


Artinya :
Unggulnya diri itu, Mengetahui hakikat shalat, Sembah dan pujian, Shalat yang sebenarnya itu, Bukan mengerjakan shalat Isya' dan Magrib, Itu namanya sembahyang, Apabila itu disebut shalat, Maka hanyalah hiasan dari shalat dhaim, Hanyalah tata krama
Manakah yang disebut shalat yang sesungguhnya itu ?, Janganlah menyembah, Jikalau tak mengetahui siapa yang disembah, Akibatnya dikalahkan oleh martabat hidupmu, Jika di dunia ini, Engkau tidak mengetahui siapa yang disembah, Maka engkau seperti menyumpit burung, Pelurunya hanya disebarkan, Tapi burungnya tak ada yang terkena tembakan, Akibatnya cuma menyembah ketiadaan, Suatu sesembahan yang sia-sia





Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 License