Tuesday, September 4, 2007

Haji

Kanjeng Sunan Maulana Maghribi
Suluk Wujil

Samana ngling Molana Maghribi
Singgih pakanira awangsul
Nora ing Mekah rekeh
Ing Mekah kulon iku
Mekah tiron wastanireki
Watu ingkang kinarya
Pangadhepan iku
Nabi Ibrahim akarya
Nusa Jawa yen tuwan tingala kapir

Lan tuwan awangsul
Nora ana weruh ing Mekah iki
Alit mila teka ing awayah
Mang tekaa parane
Yen ana sangunipun
Tekeng Mekah tur dadi wali
Sangunipun alarang
Dahat dening ewuh
Dudu srepi dudu dinar
Sangunipun kang sura lagaweng pati
Sabar lila ing donya


Artinya :
Maulana Maghribi berkata demikian,
“Baiklah engaku kembali,
yang engkau cari tidak ada di Mekah,
Mekah yang terletak di barat [nusa jawa] itu,
Mekah tiruan namanya,
Batu yang dibuat,
sebagai tempat menghadap,
adalah buatan Nabi Ibrahim,
jika nusa jawa engkau tinggalkan,akan menjadi kafir.

Tak ada orang yang tahu,
Dimana Mekah yang sebenarnya,
Meski ia harus berjalan,
Dari kecil hingga tua,
Tak akan mencapai tujuan,
Jika ada bekalnya,
Sampai di Mekah dan menjadi wali,
Maka bekalnya sangat mahal,
Sukar diperoleh,
Bukan rupiah maupun dinar bekal tersebut,
Tapi keberanian, kesanggupan mati,
Dan sabar serta ikhlas di dunia.”


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License



Serat Nitisruni

Pupuh Dhandhanggula, 11-14
Kanjeng Syekh Siti Jenar & Kanjeng Sunan Kalijogo

Surasanya kang pinurweng ruwi
Kang minangka lenggahuing pandhita
Yen sampun leres rarase
Nulusa raosipun
Jroning nala tanpa ling-aling
Dening sampun waspada
Dununging panebut
Atanapi kang sinembah
Dadi gambuh ngambuh ing kaanan jati
Jati mulyeng kasidan
Rarasing kang mangkana sayekti
Tan kabuki neng manahing janma
Kang tanpa pangawikane
Muwah kang mudha punggung
Bodho bundhu datanpa budi
Marmanira kumedah
Tyas kalaten atul
Met tuladha puruhita
Maring para pandhita putusing jati
Jatining kanindhitan
Kartaning tyas yen wus tekeng jati
Pan wus sirna reregeding angga
Ruwat sagung mamalane
Kadi sarira ayu
Kang mangkana yeka manawi
Trus prapteng jero jaba
Babarane jumbuh
Ning wening tan kawoworan
Ing satemah pan wus keni den wastani
Syuh sirna manungsanya
Tatelane kang mangkono yekti
Wus tan ana Gusti lan kawula
Saking wus sirna rasane
Dene ta kang tan weruh
Ing pangawruh kang wus jinarwi
Ta kena cinarita
Caraning tumuwuh
Wit wus kebak mesi wisa
Mung duraka kewala kang den raketi
Beda kang wus sentosa

Artinya :
Maksud ajaran yang permulaan
Mengenai kedudukan pendeta
Bilamana sudah benar sesuai [penempatannya]
Jujurnya perasaan
Di dalam hati tiada akhir
Karena sudah waspada
Kedudukannya yang menyembah
Dan yang disembah
Menjadi biasa dalam keberadaan sejati
Menjadi mulia yang sebenarnya
Selarasnya yang demikian itu sebenarnya
Tidak terbuka dalam hati manusia
Yang tanpa pengetahuan
Dan yang masih bodoh
Sungguh bodoh pemikirannya
Oleh karena itu haruslah
Hati terus berusaha
Mengambil teladan guru
Kepada para pendeta yang mahir
Sebagai kemuliaan sejati
Maksud rasa hati yang sudah sampai
Pada kebenaran
Kotoran diri yang sudah sirna
Mencegah segala yang tidak baik
Bagaikan tubuh yang cantik
Yang demikian itu bilamana
Sudah sampai luar dalam
Akhirnya selaras
Bersih tak bercampur
Dalam suasana yang indah yang disebut
Benar-benar sirna sifat manusiawinya
Jelas sekali sebenarnya yang demikian itu
Sudah tak ada gusti dan hamba
Karena sudah sirna rasanya
Sedangkan bagi yang tidak tahu
Pengetahuan yang diuraikan
Tak dapat diceritakan
Bagaimana cara hidupnya
Sudah penuh bisa
Hanya kedurhakaan yang dilakukan
Lain halnya bagi yang sudah kokoh budinya.



Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License

Tawakal

Menurut Al Quran, seruan kepada manusia untuk bertawakal kepada Allah SWT dikaitkan dengan berbagai nilai keagamaan dan kehidupan adalah :

1. Tawakal dikaitkan dengan sikap keimanan kepada Allah SWT [QS Al Maidah (5): 23] dan sikap pasrah kepadaNya [QS Yunus (10) : 84];

2. Tawakal kepada Allah SWT diperlukan setiap kali sehabis mengambil keputusan penting [khususnya keputusan yang menyangkut orang banyak melalui musyawarah], guna memperoleh keteguhan hati dan ketabahan dalam melaksanakannya, serta tidak mudah mengubah keputusan itu [QS Ali Imran (3) : 159 ];

3. Tawakal juga dilakukan agar keteguhan jiwa menghadapi lawan dan agar perhatian kepada usaha untuk menegakkan kebenaran tidak terpecah karena adanya lawan itu, dengan keyakinan bahwa Tuhanlah yang akan melindungi dan menjaga kita [QS An Nisa’ (4) : 81];

4. Tawakal juga diperlukan untuk mendukung perdamaian antara sesama manusia, terutama jika perdamaian itu juga dikehendaki oleh mereka yang memusuhi kita [QS Al Anfal (8) : 61];

5. Sikap mempercayakan diri kepada Tuhan juga merupakan konsistensi keyakinan bahwa segala sesuatu akan kembali kepadaNya dan bahwa kita harus menyembah Dia Yang Maha Esa itu saja [QS Hud (11) : 123];

6. Tawakal kepada Allah SWT juga dilakukan karena Dialah Yang Maha Hidup dan tidak akan mati. Dialah Realitas Mutlak dan Maha Suci, yang senantiasa memperhitungkan perbuatan hamba-hambaNya [QS Al Furqan (25) : 58];

7. Kita bertawakal kepada Allah SWT karena Dialah Yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana. Dengan tawakal kita menghapus kekhawatiran kepada Pencipta kita sendiri dengan segala kemuliaan dan kebijaksanaanNya [QS As Syu’ara (26) : 217];

8. Tawakal diperlukan untuk meneguhkan hati jika memang seseorang yakin, dengan tulus dan ikhlas, bahwa dia berada dalam kebenaran [QS Al Naml (27) : 79].

Semua nilai tersebut di atas memiliki kesamaan semangat, yaitu semangat harapan kepada Allah SWT, maka jika takwa melandasi kesadaran berbuat baik demi ridhaNya, tawakal menyediakan sumber kekuatan jiwa dan keteguhan hati menempuh hidup yang penuh tantangan dan tidak seluruhnya dapat dipahami ini, terutama dalam perjuangan memperoleh ridhaNya.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License



Jenis-Jenis Hati

Diriwayatkan oleh Ibnu Katsir dari Hasan, Rasulullah SAW bersabda :
“hati itu terdiri dari empat macam. Yaitu hati yang bersih di dalamnya seperti pelita yang terang benderang; hati yang tertutup yang terikat pada tutupnya; hatiyang terbalik; dan hati yang berlapis. Hati yang bersih adalah hati milik orang mukmin. Pelitanya adalah cahaya yang ada di dalamnya. Hati yang tertutup adalah hati orang kafir. Hati yang terbalik adalah hati orang yang munafik, ia tahu kemudian ingkar. Sedangkan hati yang berlapis adalah hati yang di dalamnya terdapat iman dan kemunafikan. Iman yang terdapat dalam hati tersebut bagaikan sayur yang memperoleh siraman air yang segar. Sedangkan kemunafikan yang ada di dalamnya bagai bisul yang penuh dengan nanah dan darah. Yang mana di antara dua yang dapat mengalahkan yang lain, maka itulah pemenangnya.”


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License

Keinginan Berlebih-lebihan Dapat Membutakan Mata Hati

Bagaimana mungkin hati dapat memancarkan cahaya, sedangkan di dalamnya terlukis gambaran duniawi. Atau, bagaimana mungkin hati dapat menuju Allah kalau ia masih terikat oleh syahwat [keinginan]. Bagaimana hati akan mempunyai keinginan yang kuat agar masuk kepada kehadirat Allah, padahal hatinya belum suci dari ‘janabah’ kelalaiannya. Atau, bagaimana bisa berharap agar mengerti rahasia-rahasia yang halus, padahal ia belum bertaubat untuk menebus kesalahannya. [Syekh Ibnu Atho’illah]



Orang yang beriman tentu menginginkan hatinya dapat memancarkan cahaya untuk mengenal Allah dengan penglihatan indra keenam. Namun hal itu tidak akan dapat dirasakannya jika di dalam hati masih ada goresan-goresan gambaran keadaan dunia. Liku-liku kehidupan yang hanya semu. Goresan-goresan tentang liku-liku kehidupan yang masih menempel di dalam hati bisa menyebabkan kegelapan kalbu. Jika hati menjadi gelap, tidak mungkin dapat memancarkan cahaya. Sinar keimanan tidak dapat menembusnya. Indra keenam menjadi tumpul.

Agar hati dan indra keenam dapat bercahaya, dan dapat mengenal keajaiban-keajaiban Allah, yang harus diperhatikan adalah hendaknya goresan tentang dunia yang dipandang oleh mata yang kemudian menempel di dalam hati haruslah disingkirkan. Hal itu merupakan belenggu nafsu. Selama nafsu membelenggu hati, maka jangan diharapkan dapat sampai kepada Allah. Jangan berharap dapat melihat keajaiban-keajaiban. Di dalam Al Quran diterangkan, “Dan adapun orang-orang yang takut terhadap kebesaran Tuhannya dan mau menahan hawa nafsu dari keinginannya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” [QS An Naziat : 40-41]

Selain itu, hendaklah kita membersihkan jiwa dari kesalahan-kesalahan, baik kesalahan terhadap Allah maupun terhadap sesama manusia. Orang yang mempunyai kesalahan diibaratkan ia sedang menanggung janabah [junub], yaitu hadas besar yang terlebih dahulu ia harus mandi. Adapun ‘mandi’ dari kesalahan adalah bertaubat.

Orang yang mengharapkan ilmu dari Allah, yang mana dengan ilmu itu dapat menyingkap segala yang gaib, haruslah bertaubat dan bertakwa. Orang yang bertakwa tidak mungkin melakukan perbuatan buruk dan rendah. Karena takwa dan perbuatan buruk [maksiat] merupakan dua hal yang bertolak belakang. Mustahil dua hal itu dapat bertemu.

Oleh karena itu, janganlah kita menuruti keinginan-keinginan yang melantur tinggi selangit. Keinginan itu bermuara pada penguasaan harta benda, kenikmatan dan jabatan duniawi. Jika kita mengumbar keinginan yang nilainya rendah tersebut, maka tak mungkin dapat menajamkan mata hati. Jangan berharap dapat menggunakan indra keenam untuk menyingkap perkara gaib.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License

Monday, September 3, 2007

Kisah Seorang Sultan & Seorang Syekh

Suatu hari Sultan Mahmud dari Kerajaan Ghazna di Asia Tengah pergi mengunjungi Syekh Abdul Hasan yang terkenal di Samarkand. Saat utusan Sultan menyampaikan pesan dari
Sultan kepada Syekh untuk keluar menemui sultan, Syekh Abdul Hasan menjawab, "Saya menyesal tidak dapat menemui raja di bumi, karena sangat terpikat melaksanakan perintah Maha Raja Yang Agung yang bertahta di atas langit."

Mendengar laporan utusannya, Sultan berkata, "Berarti kita yang harus menghadapnya."
Sultan datang sendiri ke tempat Syekh dan segera memberi salam kepadanya. Syekh menjawab salam Sultan tapi tidak menoleh atau berkata apapun, tetap diam dalam duduknya. Sultan pun kemudian berkata, "Berilah aku beberapa nasehat."

Syekh berkata, "Bebaskan dirimu dari minuman yang memabukkan, perbanyak shalat di masjid, jadilah dermawan dan sayangilah rakyatmu."
Kemudian Sultan memohon untuk dido'akan. Sultan meletakkan pundi-pundi uang di depan Syekh, tetapi Syekh hanya memberinya sepotong roti gandum yang kasar.

Sultan pun memakannya, tetapi susah ditelan karena kasar dan kering. Syekh segera berkata, "Roti telah menyumbat tenggorokanmu sebagaimana uang yang engkau berikan, akan menyumbat tenggorokanku. Ambil kembali uang ini dan bagikan kepada rakyatmu."


Bagi seorang hamba yang selalu ingin dekat dengan Allah SWT dan hanya mengharapkan kehidupan abadi di akhirat, maka harta dunia hanyalah minuman yang memabukkan yang tidak berarti apa-apa selain menjerumuskan. Berhati-hatilah terhadap harta.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License

.

Kalut Karena Perkara Gaib

Suatu ketika Hasan Bashri datang ke rumah Rabi'ah Al Adawiyyah, menanyakan kesediaannya untuk dijadikan istri. Dalam cerita lain disebutkan bahwa di sana juga hadir Malik bin Dinar dan Tsabit bin Al Banani.

Diajukanlah empat pertanyaan oleh Rabi'ah yang harus dijawab sebagai syarat kesediaannya.

Pertama, "Menurut Tuan, kalau aku meninggal dunia, kematianku membawa ketetapan iman atau tidak ?."
Hasan Bashri menjawab, "Maaf, hal itu termasuk masalah gaib dan tiada yang tahu pasti selain Allah SWT."

Kedua, "Menurut Tuan, kalau aku disemayamkan dalam kubur lalu malaikan Munkar-Nakir menanyaiku, aku mampu menjawabnya atau tidak ?."
Hasan Bashri menjawab, "Maaf, itu juga termasuk masalah gaib."

Ketiga, "Pada saat manusia dihimpun di hari kiamat, aku termasuk yang akan menerima kitab amal dengan tangan kanan atau kiri ?."
Hasan Bashri menjawab, "Maaf, itu juga masalah gaib."

Keempat, "Menurut Tuan, aku termasuk golongan mana saat dipanggil, ahli surga atau ahli neraka ?."
Hasan Bashri menjawab, "Maaf, itu juga masalah gaib, hanya Allah SWT yang tahu."

Selanjutnya Rabi'ah Al Adawiyyah berkata, "Bagi orang yang masih kalut memikirkan empat perkara ini, bagaimana ada kesempatan berumah tangga ?."
Kemudian ia bertanya, "Ya Tuan Hasan, berapa bagiankah Allah menjadikan akal ?."
"Sepuluh, dengan rincian sembilan bagi pria dan satu bagi wanita," jawab Hasan Bashri.
"Lalu berapa bagian Allah menjadikan syahwat [nafsu] ?," tanya Rabi'ah kembali.
"Sepuluh juga, sembilan untuk wanita dan satu untuk pria," jawab Hasan Bashri.

Rabi'ah kemudian berkata,"Ya Tuan, kalau aku hanya dengan satu bagian akal saja mampu mengekang syahwat, tetapi Anda dengan sembilan bagian akal kenapa tidak mampu ?."
Mendengar ini, menangislah Hasan Bashri dan segera memohon ijin untuk pamit.

Hikmah cerita di atas :
Hawa nafsu selalu menghalangi manusia untuk taat kepada Allah SWT. Persiapkan diri untuk bisa memenangkan perang besar yaitu perang melawan hawa nafsu. Segera mohon ampun kepada Allah SWT jika lalai dan khilaf.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License